Cerpen "Mencari Cahaya"



MENCARI CAHAYA
                                                                                              Ancha phutera x-mart

“Hari yang cerah, saat gelap menyingkapkan selimutnya, dengan perlahan kumembuka mata,  diiringi dengan senyuman indah.
Saat kupandangi di ufuk timur, terbias cahaya kehidupan, yang menerangi ruang harapanku.
Cahaya cinta menerangi hatiku, mekar menghiasi hidupku. Hati yang dulu gersang kini terasa hijau, bagai taman bunga nan luas, menyejukkan dan menari-nari oleh hebusan angin kebahagiaan.
Saat kukenal sosoknya
Perasaanku terpaut olehnya
Aku terasa terbang bersamanya
Melintasi cakrawala menuju surga.
Kau mengajariku mengerti tentang lukisan hati
Hingga ingin kuukir bayangmu dalam nuraniku hingga melekat dan tak pernah terhapuskan.
Hingga di kehidupan kelak.”1
“Sudah lama aku tidak datang ketempat ini, menikmati udara sejuk desa ini bersamanya”. sambil tersenyum.
“Siapa kamu”. jawab seorang gadis yang duduk di sebuah pondasi bekas dermaga.yang menjulur ke laut yang sudah lama roboh.
“Kamu ana kan ?, mungkin kamu sudah lupa dengan puisi itu, tapi runtuhan dermaga ini menjadi saksi dan menyimpan sejuta kisah dan cerita.”

“Puisi itu telah hilang dalam arus bersama reruntuhan tempat ini. Saat kepergianmu, aku baru sadar dan banyak belajar tentang arti hidup, kebersamaan, perpisahan, kebahagiaan dan rasa kecewa. Dan mengerti bahwa segala rasacepat atau lambat, pasti akan berakhir.”
“Aku mengerti  tentang rasa itu. Aku benar-benar menyesal.”
 “Saat kepergian kakak tanpa kabar, Ana selalu berharap pada Tuhan. Sebelum aku pergi, kita bisa bertemu walau hanya sekali.”
“Maksud kamu ?. Mengapa kamu berkata seperti itu. Kamu mau kemana?”
 “Ana hanya ingin sendiri dulu.”
“Maafkan aku. Aku berjanji akan selalu bersamamu. Tak akan meninggalkanmu lagi.”
“Ini sudah menjadi keputusan Ana. Dan Ana bersyukur. Tuhan mengabulkan doaku. Dengan mempertemukan kita di tempat ini.”
“Kamu jangan pergi dulu. Kamu tetap di sini. Lihatlah ombak itu, nampaknya bahagia melihat kita berdua lagi di tempat ini. Seperti dulu. Dan saat-saat seperti inilah yang akan membuatku betah untuk bersamamu.”
“Maaf, ini bukan masa lalu, jika kakak bersungguh-sungguh, maka datanglah kerumah Ana. Temui orang tua a\Ana. Tapi dengan syarat perbaiki keyakinan kakak kepada Tuhan, agar Ana yakin bahwa kakak siap menjadi imam Ana.”
“kring..kring..kring...” hpku berdering mengacaukan suasana. Dari balik telepon, Alam mengabariku dengan tergesa-gesa.
“Ananda, ini gawat. Polisi menggeledah tempat kita. Mereka memburu para aktivis yang turun aksi kemarin. Mereka menuduh kita teroris. Kamu harus sembunyi. Mereka melacak identitas kita dengan detail. Dan tidak segan-segan menembak orang- orang yang di anggap masuk dalam daftar hitamnya.”
“Kamu dimana sekarang.”Aku bertanya dengann Rasa cemas.
“Saya sudah ada di tempat yang aman. Dan saya dengar mereka juga mencarimu. Pokoknya kamu harus pergi.”
“Tapi.”
“Sudahlah, perjuangan kita masih panjang. Yang penting kita selamat dulu.”
Suara itu tiba-tiba menghilang di ujung telepon. Aku tidak tahu akan berbuat apa. Pikiranku tiba-tiba saja hampa mendengar kabar itu. Rasa cemas dan gelisah membludak saling bertabrakan. Jantungku tiba-tiba saja berdetak kencang, memompa keringat hingga bercucuran.
            “Ada apa kak ? kok wajahnya pucat begitu ?. apa yang terjadi !”
            “Tidak apa-apa.”  Akumencoba tenang.
              “Kakak bohong. Ana dengar pembicaraan kakak tadi. Kakak mau pergi lagi kan ?. sebenarnya ada apa kak.”
            “Itu bukan masalah.”
              “Ana butuh kejujuran kakak. Kakak di anggap teroris, itu bukan masalah ? apa yang kakak lakukan.”
            “Kamu tidak akan mengerti.”
            “Tapi Ana ingin tahu kenapa dan apa yang kakak lakukan, sehingga di anggap teroris. Ataukah memang kakak..  .”
            “Itu hanyalah anggapan orang saat ini tentang islam. Bahkan orang islam sendiri pun menuduh suatu golongan sebagai teroris. Aku hanya berteriak untuk kebenaran. Aku dianggap terlibat dalam organisasi yang dituding sebagai organisasi islam garis keras. Yang dimana, anggapan mereka adalah pemberontak terhadap kedaulatan negara.Itu saja.”
            “Tapi kakak sedang di cari. Mau tidak mau, mereka pasti akan menyeret kakak. Ana mengerti jika kakak harus pergi lagi.”
            “Tidak.  Aku tidak akan pergi, walaupun harus mati di tempat ini. Aku ingin membuktikan kepadamu bahwa aku tidakbersalah. dan apa yang aku lakukan adalah sesuatu yang saya anggap benar.
            “Maksud kakak.?”
            “Bukankah dulu kamu juga pernah bilang. Hidup kita jangan sampai disia-siakan. Hendaknya kita harus memiliki pola pikir yang baik. Karena suatu saat nanti aku berharap seorang yang akan mendampingiku adalah imam. Dan orang berjalan teguh dalam agama Allah dan memperjuangkan Syariat islam hingga tegak di bumi ini. Itu harapan kamu kan ?”
            “Ana hanya berharap,bahwa apa yang kakak lakukan lahir dari niat ikhlas kakak semata, dan berharap hanya kepada Allah. Bukan karena hasrat kakak menginginkan Ana. Itu saja.”
            Kata-kata itu  membuat hatiku goyah. Tubuhku terasa kaku. Tak tahu akan berbuat apa. Aku tidak  tahu tentang apa yang telah dilakukan. Apakah  bersandar dari hati nuraniku yang ikhlas, ataukah hanya nafsu yang bergejolak dalam diri.
              “Sebelum melangkah lebih jauh, Ana berharap luruskan niat kakak. Jangan sampai apa yang kakak perjuangkan hanya laksana debu di atas batu licin, yang ketika datang hujan. Maka hilang tak tersisa.”
                Dengan terbata-bata dan agak pelan ananda seraya berkata
            “Ana, aku mencintaimu atas nama Allah”
            “Tidak, cinta kakak keliru. Apa yang kakak lakukan hanyalah memperjuangkan cinta yang didasarkan pada syahwat, karena kakak tidak peduli tentang keselamatan kakak sendiri. Kakak hanya bersandar pada kecenderungan naluri, yaitu beupa minat dan keinginan terhadap wanita, seperti orang yang membutuhkan air saat haus atau ingin makan di saat lapar. Dan kakak lebih memilih lapar dan haus daripada menahan diri saat menghadapi wanita.”
            “Aku tak mengerti maksudmu”
            “Apabila seseorang berlebihan dalam mencintai makhluk. Dan melebihi cinta dan ingat kepada sang maha cinta. Maka, yang terjadi dalam hatinya adalah yang satu mengalahkan yang lain. Hingga  menjadi penguasa yang mengalahkan. Dan orang yang mencintai sesuatu selain Allah, maka Allah akan menyiksanya dengan cinta itu. Dan itu pasti. Hatinya akan menjadi tawanan orang lain, dan direndahkan oleh kehinaan. Karena kemabukannya terhadap cinta tersebut, hingga tidak menyadari musibah yang akan menimpanya. “
            “lalu, apakah jalan yang saya tempuh ini benar atau salah?
            “Masalah itu hanya Allah yang tahu. Ana hanya takut cinta kakak kepadaku lebih besar dari cinta kebada-Nya. Hingga apabila Ana bukan jodoh kakak, kakak akan melakukan hal yang nekad, bahkan malah menjauh dari jalanNya.”
            “Jadi, apa yang harus aku lakukan”
            “Cinta adalah irama kehalusan.Cinta itu adalah fitrah. Cinta itu agung jika berada pada jiwa yang bersih. Cinta itu cemerlang bila menghinggap pada manusia yang ikhlas. Kakak hanya perlu istikharah dan istiqamah di jalan-nya. Anapun akan melakukannya. Dan jika Allah berkehendak, maka jalan akan terbuka lebar.” 
Aku termenung sejenak.
            “Baikalah kalau begitu. Untuk terakhir kalinya. Isinkan aku pergi. Biarkan aku mengembara mencari cinta di atas cinta. Dan dibawah teduh bulan purnama yang ketiga nanti, aku akan datang menemuimu. Membawa jawaban tentang cintaku. Assalamu Alaikum.”
Aku pun bergegas pergi. Membawa harapan dan angan-angan yang akan menjadi misteri.
“cinta itu berbeda-beda nilainya. Antara yang bermanfaat dan mudharat. Tidak ada hukum dosa mengenai masalah cinta. Cinta tidak dipuji dan juga tidak dicela. Hanya saja perlu mengetahui arah datangnya cinta. Karena cinta itu ada yang berguna dan merugikan. Semoga kakak menemukan cinta sejati. Ana menunggumu pada purnama ketiga nanti. Walaikum Salam.”
            Mentari pun perlahan hilang diujung samudara. Penantian hati akan dimulai saat fajar telah terbit. Anapun berbalik haluan meninggalkan pantai. Menuju tempat yang agung tuk bermunajah kepada-Nya.
Selesai...

Ket: 1. Impian bersamanya (puisi) Ancha phutera x-mart

Komentar