TEATER
PENGERTIAN.
1.
Kata drama berasal
dari bahasa yunani.”draomai”, yang
berarti berbuat, berlaku, bertindak, bereaksi.
2.
Drama adalah
kualitas komunikasi, situasi, action (segala apa yang dilihat dalam pentas).
3.
Drama adalah cerita
konflik manusia dalam bentuk dialog, yang diproyeksikan pada pentas dengan
menggunakan percakapan dan action dihadapan penonton.
Arti teater
secara
epistemologi(asal kata), teater adalah gedung pertunjukan.
Arti luas :
teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan didepan orang banyak, misalnya
wayang, sulapan, akrobatik, tarian dll.
Arti sempit :
drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan diatas panggung,
disaksikan oleh orang banyak, dengan media percakapan, gerak dan laku,
didasarkan pada naskah yang tertulis.
Sandiwara
Sandiwara
dibentuk dari dua kata “sandi” (jawa): rahasia, dan “wara” (jawa): pengajaran.
Jenis teater:
1. TEATER
MINI KATA , merupakan teater yang menggunakan kata ajaran secara minim, atau
teater primitif, teater dalam bentuk yang pertama. Dalam teater ini secara
serempak terdapat ubsur tari, seni musik dan lainnya yang sangat murni dan
sederhana. Teater ini menggunakan bahasa sunyi, sesuatu di tangkap dengan tak
lengkap apabila di tangkap secara aditif atau secara visual semata.
2.
KONTEMPORER, menolak pembunuhan diri seperti
itu. Manusia tidak perlu menciptakan kuburan-kuburan untuk manusia-manusia yang
masih hidup. Tidak perlu mendirikan liang-liang mosolium yang tak lebih dari
benteng kepala batu yang ngotot karena sudah malas untuk berpikir,
mempertimbangkan sekali lagi segala keputusan untuk melihat kemungkinan baru.
Konsep dasar kontemporer adalah
pembebasan dari kontrak-kontrak penilaian yang sudah — bukan saja kedaluwarsa,
akan tetapi juga bisa — berbalik menjadi dehumanisasi, akulturasi dan
dekadensi.
Seni kontemporer sebagai bagian
dari pelafalan konsep kontemporer, selalu membebaskan diri dari kemacatan pada
satu nilai yang semula disangka sebagai sumber segalanya, padahal segala
sesuatu itu ternyata sudah bergeser dan menjungkir-balik segala-galanya.
Karena semuanya tak tercegah,
tak dapat disekap dari hukum kehidupan, untuk selalu bergerak mengikuti nafas
waktu, ruang, serta kembang-kempis alam pikiran yang tak henti-hentinya, yang
tak takut oleh apa pun, untuk terus tumbuh. Pertumbuhan yang abadi. Ketika
kehidupan diupayakan oleh manusia untuk hadir lebih baik, mendarat lebih
lentur, lebih berarti dan lebih menghayat, segalanya juga ikut bergulir.
Usaha untuk mengaktualisasi
diri, agar jadi sinkron dan menyuarakan zamannya, agar kontekstual dengan
konteksnya, agar “menjati diri”, dapat ditempuh dengan berbagai cara. Bisa
mengejewantah dalam berbagai variasi bentuk.
rcobaan, untuk membebaskan diri
dari kungkungan waktu, tempat, situasi; gondelan nilai-nilai usang, mayat-mayat
pengembaraan spiritual yang tidak relevan lagi — adalah pertunjukan
kontemporer.
3. PANTOMIM/pantomimus, (meniru segala
sesuatu) adalah suatu pertunjukan teater yang menggunakan isyarat, dalam bentuk
mimik wajah atau gerak tubuh, sebagai dialog. Jenis pertunjukan ini telah
dikenal sejak zaman Romawi Kuno dan sering digunakan dalam ritus keagamaan
dengan cerita umumnya seputar mitologi Yunani. Pantomim kembali populer pada
abad ke-16 dengan berkembangnya Commedia dell'arte di Italia yang membawa
pantomim pada bentuknya yang sekarang yang mengutamakan pada lakon komedi.
4. DRAMA
MUSIKAL adalah satu bentuk ekspresi kesenian yang dikolaborasikan antara musik,
laku, gerak dan tari, yang menggambarkan suatu cerita yang dikemas dengan tata
koreografi dan musik yang menarik sehingga terbentuklah sebuah drama musik atau
kadang di kenal dengan “musical play”
Faktor emosional dari drama – humor, cinta, amarah – dikomunikasikan lewat kata – kata, musik, gerakan, dan aspek teknis dari hiburan yang digabungkan secara keseluruhan.
Faktor emosional dari drama – humor, cinta, amarah – dikomunikasikan lewat kata – kata, musik, gerakan, dan aspek teknis dari hiburan yang digabungkan secara keseluruhan.
5.
TEATER
GERAK merupakan pertunjukan teater yang unsur utamanyaadalah gerak dan ekspresi
wajah serta tubuh pemainnya. Penggunaandialog sangat dibatasi atau bahkan
dihilangkan seperti dalam pertunjukanpantomim klasik. Teater gerak, tidak dapat
diketahui dengan pastikelahirannya tetapi ekspresi bebas seniman teater
terutama dalam halgerak menemui puncaknya dalam masa commedia del’Arte di
Italia. Dalam masa ini pemain teater dapat bebas bergerak sesuka hati
(untukkarakter tertentu) bahkan lepas dari karakter tokoh dasarnya
untukmemancing perhatian penonton. Dari kebebasan ekspresi gerak inilah gagasan
mementaskan pertunjukan dengan berbasis gerak secaramandiri muncul.
6. TEATER DRAMATIK
Istilah dramatik digunakan untuk menyebut pertunjukan
teateryang berdasar pada dramatika lakon yang dipentaskan. Dalam
teaterdramatik, perubahan karakter secara psikologis sangat diperhatikan
dansituasi cerita serta latar belakang kejadian dibuat sedetil
mungkin.Rangkaian cerita dalam teater dramatik mengikuti alur plot dengan
ketat.Mencoba menarik minat dan rasa penonton terhadap situasi cerita
yangdisajikan. Menonjolkan laku aksi pemain dan melengkapinya dengansensasi
sehingga penonton tergugah. Satu peristiwa berkaitan denganperistiwa lain
hingga membentuk keseluruhan lakon. Karakter yangdisajikan di atas pentas
adalah karakter manusia yang sudah jadi, dalam artian tidak ada lagi proses
perkembangan karakter tokoh secaraimprovisatoris (Richard Fredman, Ian Reade:
1996). Dengan segalakonvensi yang ada di dalamnya, teater dramatik mencoba
menyajikancerita seperti halnya kejadian nyata.
7. TEATRIKALISASI PUISI
Pertunjukan teater yang dibuat berdasarkan karya sastra
puisi.Karya puisi yang biasanya hanya dibacakan dicoba untuk diperankan diatas
pentas. Karena bahan dasarnya adalah puisi maka teatrikalisasipuisi lebih
mengedepankan estetika puitik di atas pentas. Gaya aktingpara pemain biasanya
teatrikal. Tata panggung dan
blocking
dirancangsedemikian rupa untuk menegaskan makna puisi yang
dimaksud.Teatrikalisasi puisi memberikan wilayah kreatif bagi sang seniman
karena mencoba menerjemahkan.
8. DRAMA TARI yaitu tarian yang
membawakan suatu cerita biasanya ada yangberdialog dan ada yang tidak memakai
dialog.Drama tari atau yang biasa disebut dengan sendratari adalah salah
satubentuk tari dramatik yang ada di Indonesia.Menurut Soedarsono (1978: 16)
drama tari adalah tari yang bercerita , baik tari itu dilakukan oleh seorang penari maupun oleh beberapa orang
penari.
Unsur-unsur pembentuk teater
1. Naskah dan lakon
Naskah adalah
bentuk/ rencana tertulis dari cerita drama
Lakon adalah
hasil perwujudan dari naskah yang dimainkan
Komposisi bahan pokok untuk cerita drama,
yaitu:
1. Premis ialah rumusan intisari cerita
sebagai landasan ideal dalam menentukan arah tujuan cerita
2. Karakter bisa juga di sebut penokohan,
yaitu bahan yang paling aktif menjadi penggerak jalan cerita, karakter disini
adalah tokoh hidup, karena berpribadi, berwatak, dia memiliki sifat-sifat
karakteristik dimensional yaitui:
·
Dimensi fisiologis
seperti: usia, jenis kelamin, keadaan tubuhnya, ciri-ciri muka dll.
·
Dimensi sosiologis
(latar belakang kemasyarakatannya), seperti: status sosial,pekerjaan, jabatan,
peranan dalam masyarakat, pendidikan, kehidupan pribadi, pandangan hidup,
kepercayaan, agama, ideologi, aktivitas sosial, hobi, bangsa, suku, keturunan.
·
Dimensi psikologis
ialah latar belakang kejiwaan seperti: mentalis, yaitu ukuran moral/ membedakan
baik dan tidak baik, temperamen, yaitu keinginan dan perasaan pribadi, sikap
dan kelakuan.
3. Plot ialah alur, rangka cerita, dari
konflik-krisis-klimaks-penyelesaian..
2. Tokoh/pemeran
Tokoh
merupakan orang yang berperan dalam sebuah cerita
Tokoh terbagi
atas:
a. Protagonis: peran utama yang menjadi pusat cerita
b. Antagonis: peran lawan, sering juga menjadi musuh yang
menyebabkan konflik
c. Tritagonis: peran penengah, bertugas mendamaikan atau
menjadi pengantara protagonis dan antagonis.
d. Peran pembantu: peran yang tidak seara langsung terlibat
di dalam konflik, tetapi di perlukan guna penyelesaian cerita.
3.
Sutradara
Sutradara merupakan karyawan yang mengordinasi segala
unsur teater dengan paham, kecakapan, serta daya khayal yang intelijen sehingga
mencapai suatu pertunjukan yang berhasil.
Ada dua tipe sutradara
a.
Sutradara yang
hanya interpreatator
b.
Sutradara sebagai
interpreatator dan kreator
Ada
dua cara penyutradaraan:
a.
Mengatur semuanya
sebagai diktator
b.
Mengatur tetapi
memberi kebebasan kepada aktor dan aktris
4.
Artistik
a.
Penata panggung
·
Proscenium
merupakan bagian pentas yang berada di depan tirai dan menonjol kedepan.
·
Pentas arena yaitu
daerah pemain berada di tengah, penonton berada berkeliling. Disebut juga
pentas sentral, pentas bundar, pentas sirkus dsb.
b.
Tata pakaian
Tata pakaian pentas merupakan segala sandangan dan
perlengkapan (accssoris) yang dikenakan dalam pentas. kesan yang disampaikan
pada penonton mengenai diri pemain bergantung pada tampaknya. Pakaian yang
pertama kali tampak menggariskan karakternya pakaiannnya yang tampak memperkuat kesan.
c.
Tata rias,
Tata rias merupakan seni menggunakan bahan kosmetik untuk
mewujudkan wajah peranan.
d.
Tata sinar.
·
Menerarangi dan menyinari
pentas dan aktor
·
Mengingatkan efek
lighting alamiah, maksudnya menentukan keadaan.
·
Membantu melikis
dekor dalam menambah nilai warna sehingga tercapai adanya sinar dan bayangan.
·
Membantu permainan
lakon dalam melambangkan maksud dan memperkuat kejiwaannya.
e.
Tata bunyi.
Eksistensi teater bersifat aditif visual, yaitu bisa didengar dan bisa dilihat.
Efek bunyi dan musik yang membawakan suasana lakon telah lahir bersama dengan
teater itu sendiri. Bunyi bertujuan untuk menghidupka secara kreatif suasana
lakon. Musik juga dipakai sebagai awal dan penutup adegan, sebagai jembatan
antara adegan satu dengan yang lainnya.
5.
Organisasi staf.
Dala sebuah
pementasan, terdapat tiga petugas pokok yang bertanggung jawab atas
penyelenggaraannya, yaitu:
a.
Director, yaitu
orang yang harus menentukan casting dan melatih aktor.
b.
Designer, yaitu
petugas yang menguasai segala umur visual dari produksi. Petugas ini harus
benar-benar bekerja sama dengan director.
Dia harus mengerjakan scenary, membuat sets. Mengetahui pementasan
secara fisik, karena kemungkinan-kemungkinan penyusun scene dan lukisan
perlengkapan, membuat gambar unsur visual play sehingga sesuai,bagaiman
mempergunakan warna dan garis untuk membuat kreasi terhadap suasana dalam
pementasan.
c.
Stage manajer,
yaitu pimpinan dan asisten direktor. Dia bertanggung jawab atas scenary waktu
pertunjukan, mengawasi kru yang bertugas, bertanggung jawab atas
kelancaran pertunjukan sampai selesai.
6.
Penonton
Tujuan terakhir suatu pementasan adalah penonton, benar
pula pendapat Jhon E. Diectrich, yang mengemukakan bahwa drama adalah cerita
konflik manusia yang di proyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan
dan action dihadapan penonton.
Respon
penonton atas lakon akan menjadi suatu respon yang berlingkar, bolak balik diantara
penonton dan yang di tonton. Kelompok penonton pada suatu tontonan adalah
komposisi organisme kemanusiaan yang peka. Mereka pergi menonton dengan maksud
pertama-tama memperoleh kepuasan, kebutuhan, dan keinginannya.
Komentar
Posting Komentar