Cerpen " TERKENANG DALAM KERINDUAN "

TERKENANG DALAM KERINDUAN

                                                                            Oleh : Ancha phutera x-mart

Bayangan  cahaya senja menari-nari di atas permukaan laut mengikuti tarian ombak yang tenang.  Ananda sesekali melemparkan batu-batu kecil ke air. Pikirannya menerawang, terbayang saat  itu,  pertemuannya dengan seorang gadis anak karaeng di kampung sebelah. Perasaannya pun memuncak dan ingin rasanya memeluk erat gadis itu. senyum yang menghiasi wajahnya tak pernah lepas  Dan  berharap suatu saat nanti dia akan mendapatkannya.
***
            Seiring waktu berputar dihari-hari penantiannya, harapannya terwujud, Ananda dan karaeng Bunga menjalin asmara namun secara rahasia atas permintaan Karaeng Bunga tanpa alasan yang jelas.
“Harus berapa lama kita seperti ini, kita kan sudah dewasa. Masa kita harus sembunyi-sembunyi seperti anak kecil saja, sebenarnya ada apa.” Pertanyaan itu terlontar di mulut Ananda yang entah sudah sekian banyak.

“ Saya belum siap saja katakan ini sama ayah, soalnya mereka melarang saya untuk berpacaran. Katanya, kalau kamu mau, langsung menikah saja. Karena kata ayah, dalam silsilah keluargaku tidak ada yang namanya pacaran.” jawabnya dengan perasaan cemas.
“Nah, bagus itu,  kenapa kamu tidak bilang dari kemarin, saya langsung lamar saja”. jawabnya dengan bersemangat.
“Tidak, maksud saya bukan seperti itu.”
“Apa lagi, saya akan kerumahmu dan melamarmu dan aku akan membawamu kesebarang samudra. Di suatu tempat dimana kita akan membangun sebuah istana untuk kita berdua.”
“Ayahku mempunyai calon untukku, yang juga seorang anak Karaeng. Maaf, aku harus pulang, aku takut ayah mencariku.”
Kata-kata tadi membuatnya tersentak dan membuat Ananda harus berfikir panjang.          
            Dunia, yang dipenuhi berjuta pasang telinga, mata dan mulut dengan masing-masing fungsinya tak pernah lepas dari setiap peristiwa. Kabar tentang putrinya yang menjalin asamara dengan seorang laki-laki yang identitasnya belum diketahui, akhirnya sampai di telinga Karaeng Tinggi, walaupun masih samar-samar. Dia menyuruh beberapa orang untuk mencari tahu kepastian berita itu. Dan memerintahkan orang kepercayaannya untuk menjaga Karaeng Bunga untuk tidak keluar rumah.
            Langit yang tadi cerah, kini perlahan ditutupi awan tebal. Air pun mengalir di sudut mata karaeng Bunga, membasahi pipinya saat mendengar bahwa ayahnya marah dan akan mengurungnya di dalam kamar. Hatinya serasa tersayat ketika harus terpisah dengan orang yang dicintainya lantaran hanya keegoisan ayahnya.
***
            Mentari kembali bersinar di ufuk timur, pintu kamar kamar yang dikunci rapat sejak semalam, kini terbuka lebar. Melihat kejadian itu, karaeng Tinggi marah besar. Dia  memerintahkan orang-orang kepercayaannya termasuk  paman Ananda  untuk mencari karaeng Bunga beserta laki-laki itu. Mereka pun disarankan agar berita tentang kehilangan karaeng Bunga jangan sampai tersebar ke warga.
“Cari Bunga, dan bawa kemari beserta laki-laki itu, siapapun bersamanya tidak akan pernah kumaafkan. Karena berani bermain-main di belakangku”. Begitu kata karaeng Tinggi dengan tegasnya dihadapan orang kepercayaannya.
“Kami berjanji demi kehormatan keluarga besar karaeng, akan menjunjung tinggi harkat dan martabat karaeng, dan siap mati  untuk karaeng.”
            Sebagai orang yang di hormati dan tersohor dikampungnya, tentu saja berita itu cepat tersebar di setiap telinga warga. Apalagi ini termasuk berita yang menghebohkan warga.
***
            Di sebuah gubuk yang sederhana, dengan wajah yang kebingungan bercampur rasa takut, dan semakin gelisah saat Ananda melihat pamannya bergegas menuju ke rumahnya. Untuk menutupi rasa gelisahnya, Ananda memberanikan bertanya kepada pamannya
“Ada apa paman”, kata Ananda.
Pamannya tak menghiraukan perkataan Ananda, dia langsung masuk ke dalam rumah mengambil sebuah parang dengan ekspresi yang menakutkan, dan memandang Ananda. Pikirannya melayang dan wajahnya pucat, jangan sampai pamannya sudah tahu tentang yang dialaminya.
Tiba-tiba pamannya menghampiri ananda dan menatapnya dengan tajam, selang beberapa detik, keringat ananda bercucuran dengan derasnya. Lalu membisiki ananda bahwa putri karaeng tinggi pergi engan seorang laki-laki. Dan dia diperintahkan untuk mencarinya hidup ataupun mati.
Ananda mencoba tetap tenang, namun guncangan hatinya serta detak jantungnya yang kencang tak bisa dia sembunyikan. Lalu bertanya dengan pelan
“apakah paman tahu laki-laki itu.”
“belum, tapi kamu harus bantu paman untuk mencari orang itu.”
“paman seandainya yang membawa putri karaeng tinggi termasuk keluarga keluarga paman sendiri ?”’
Pamannnya terkejut mendengar kata-kata itu,
“apa maksud kamu, kamu jangan permalukan keluarga kita di depan semua orang nak.”
“tapi paman, aku minta maaf, akulah laki-laki itu.”
Wajah pamannya terlihat merah padam, menahan marah ingin memukul ananda.
“cinta kami tulus dan suci, kami telah berjanji sehidup semati. Dia datang menghiasi mimpi-mimpiku. Bukankah cinta itu suatu kodrat bagi setiap makhluk tuhan yang datang kepada siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Bukankah kalau kita menghalangi cinta seseorang itu sama saja menghalangi rahmat tuhan. Paman, manusia itu sama di hadapan tuhan. Baik itu karaeng, daeng atau apapun itu. Bukankah semua yang lahir kedunia ini tidak membawa sesuatu apapun ?. panam segala yang ada di dunia ini hanyalah faktor keberuntungan. Ada yang terlahir di keluarga yang kaya, miskin, namun di mata tuhan semuanya sama.”
 Deraian air mata mengiringi di setiap untaian kata yang terucap oleh lisan Ananda mencoba untuk membuka pikiran pamannya.
 Pamannya pun mulai sadar bahwa ananda pantas mendapatkan apa yang dia inginkan. Namun yang dia sesalkan adalah cara ananda untuk mendapatkan pujaannya bertentangan dengan aturan yang berlaku. Dia pun mencoba untuk tenang. Dengan serta-merta pamannya bergegas pergi menuju rumah karaeng tinggi untuk meminta maaf atas perbuatan ananda sekaligus meminta isin untuk melamar karaeng bunga untuk Ananda. Mereka berdua pun ikut dari belakang.
Suasana mencekam menghantui hati dan rasa mereka disaat harus berhadapan dengan karaeng tinggi. Genggaman tangan keduanya tak pernah lepas. Dan berjanji apapun yang terjadi mereka akan tetap bertahan.
Sesampainya dirumah karaeng bunga bersujud di hadapan ayahnya  meminta maaf. Karaeng tinggi sangat marah dan memukul karaeng bunga beserta ananda, bahkan mereka hendak membunuhnya karena merasa di permalukan, namun paman ananda menghalanginya lalu menyampaikan maksud kedatangannya kesini. Mendengar hal itu, kemarahan karaeng tinggi mencapai puncaknya dan mengatakan tidak akan menyetujui hal ini, apalagi ananda bukan dari keturunan karaeng.
Kejadian itu semakin memanas. Pamannya pun berdiri dan mengatakan kalau dia menyentuh mereka berdua, maka pamannya yang rela mati membelanya.
Semuanya menjadi tenang, lalu mereka mengadakan perundingan, dan keputusannya mereka harus di pisahkan dan masing-masing harus di asingkan untuk membersihkan nama baik mereka dan keluarganya. Kekerasan hati karaeng tinggi tak bisa ditaklukkan, pamannya pun tak bisa berbuat apa-apa.
“mungkin inilah jalan kita, tapi aku akan berdo’a kelak,kita akan di pertemukan walaupun bukan di dunia ini. Janji  kita tak akan pudar, perhatikanlah matahari dan bulan yang ada di atas langit, memiliki satu tujuan yang suci, menerangi dunia ini. Walau mereka tak pernah bersatu namun mereka bisa saling melengkapi. Begitulah cita cinta  yang pernah kita ikrarkan, aku mataharinya dan kau bulannya. Walau kita terhenti di tengah jalan, namun kamu mampu menerangi kesunyian hatiku, melengkapi cerita, cinta, dan kenangan yang pernah ada di dalam hidupku. Aku akan mencarimu sampai keujung dunia sekali pun”.
Matanya berkaca-kaca memandangi senja yang perlahan tenggelam di ujung samudra. seperti cintanya yang telah  pergi entah kemana. Angin laut yang dingin pun berhembus membelainya dan menyadarkannya dari lamunannya dan  ananda pun beranjak meninggalkan senja yang telah menghilang dibalik kegelapan malam.
Sekian............................................................
Ket.
·         Karaeng : gelar kepada keturunan ningrat, raja, orang memiliki kekuasaan,




           



Komentar