LAPORAN
Pemantapan
Profesi Keguruan (P2K)
SMA HANDAYANI
SUNGGUMINASA
Oleh
:
Nama :
ANSAR
SAAD
Nim : 105 3306387 10
PROGRAM
STUDI STRATA 1 (S.1)
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH MAKASSAR
LEMBAR
PENGESAHAN KEGIATAN PROFESI KEGURUAN
Laporan
Program Pemantapan Profesi Keguruan (P2K) berkaitan
dengan kegiatan profesi
keguruan oleh
mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar di SMA Handayani
Sungguminasa Gowa tahun
ajaran 2013/2014
dinyatakan diterima dan disahkan.
Yang
melaksanakan kegiatan ini adalah:
Nama : ANSAR SAAD
NIM : 105 3306387 10
Jurusan :
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Program
Studi : Strata 1
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)
Sungguminasa, Mei 2014
Disahkan oleh,
Dosen
Pembimbing Guru Pembimbing
St.Fitriani
Saleh, M.Pd Hj. Syanti, S.Pd
NBM:858638
Mengetahui,
Kepala SMA Handayani
Sungguminasa
H. SUKRI, SE
LEMBAR
PENILAIAN
Berdasarkan pengamatan dan laporan Program Pemantapan
Profesi Keguruan (P2K) berkaitan
dengan kegiatan profesi keguruan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar.
Nama : ANSAR
SAAD
NIM : 105 3306387 10
Jurusan : Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia
Program
Studi : Strata 1
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)
Maka guru dan dosen pembimbing memberikan nilai A/ B/ C/ D/ E)* (…………….)
pada kegiatan ini.
Sungguminsa, Mei 2014
Dosen Pembimbing, Guru Pembimbing,
St.Fitriani Saleh, M.Pd Hj. Syanti, S.Pd
NBM:858638
)*coret yang tidak perlu
FORMAT
LAPORAN
Lembar
Pengesahan............................................................................................ i
Lembar
Penilaian................................................................................................ ii
BAB
I PENDAHULUAN................................................................................... 1
A. Profil
Proses Pembelajaran di kelas...........................................................
B.
Profil Hasil Belajar....................................................................................
C.
Rumusan Masalah berdasarkan profil proses pembelajaran
dan hasil belajar
D.
Bentuk tindakan untuk memecahkan masalah sesuai dengan
masalah.....
E.
Argumentasi logis pilihan tindakan...........................................................
F.
Tujuan........................................................................................................
BAB
II KAJIAN PUSTAKA.............................................................................
Relevansi antara konsep/ teori yang
dikaji dengan permasalahan.
BAB
III PROSEDUR PELAKSANAAN.........................................................
A. Jumlah
siswa, tempat, dan waktu pelaksanaan P2K.................................
B.
Langkah – langkah pembuatan perangkat pemelajaran
inovatif seperti RPP dan alat evaluasi
C.
Implementasi RPP dan Evaluasi di kelas..................................................
D.
Variabel-Variabel
Penelitian......................................................................
E.
Prosedur
Penelitian....................................................................................
F.
Metode
Pengumpulan Data.......................................................................
G.
Teknik
Analisa Data & Kriteria Keberhasilan...........................................
BAB
IV HASIL PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN...........................
A.
Hasil Pelaksanaan......................................................................................
B.
Pembahasan...............................................................................................
BAB
V SIMPULAN DAN SARAN..................................................................
A. Simpulan....................................................................................................
B.
Saran..........................................................................................................
Daftar
Pustaka....................................................................................................
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat Rahmat dan karunia-Nya
sehingga program Pemantapan Profesi Keguruan (P2K) oleh Mahasiswa Universitas
Muhammadiyah Makassar di SMA Handayani Sungguminasa, Kabupaten Gowa tahun ajaran 2013/2014 yang berlangsung selama kurang
lebih 2 bulan dapat berjalan sebagaimana mestinya sampai dengan
terselesaikannya laporan ini.
Program Pemantapan Profesi Keguruan (P2K) yang
merupakan salah satu persyaratan akademik dalam lingkungan Universitas
Muhammadiyah Makassar khususnya pada jurusan Bahasa Inggris yang berorientasi
pada penerapan dan penelitian sekaligus latihan untuk mengaplikasikan ilmu yang
telah diperoleh selama berkuliah. Hasil yang diperoleh selama melaksanakan
program Pemantapan Profesi Keguruan (P2K) baik laporan pelaksanaan proses
belajar mengajar maupun hasil observasi di harapkan mampu memberikan manfaat
bagi para pembaca.
Program Pemantapan Profesi Keguruan
(P2K) ini dapat terlaksana dan berjalan hingga akhir sesuai dengan yang
diharapakan karena dalam pelaksanaanya tidak terlepas dari bantuan moril dan
materil dari berbagai pihak yang telah mendukung kami selama pelaksanaan
program P2K ini berlangsung. Olehnya itu kami selaku Mahasiswa/Mahasiswi P2K di
SMA Handayani
Sungguminasa mengucapkan terima kasih yang sedalam –
dalamnya serta pengharapan yang tak ternilai kepada:
1.
Bapak Dr. H. Irwan Akib, M.Pd., Rektor Universitas
Muhammadiyah Makassar.
2.
Bapak Dr. A. Sukri Syamsuri, M.Hum., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Makassar.
3.
Bapak H.
Sukri, SE , selaku Kepala Sekolah di SMA Handayani Sungguminasa.
4.
|
iii
|
5.
Ibu St.
Fitriani Saleh S.Pd.,M.Pd sebagai
dosen pembimbing yang dengan senang hati memberikan motivasi dan bimbingan
kepada kami.
6.
Ibu Hj. Syanti,S.Pd sebagai guru
pembimbing yang telah memberikan begitu banyak masukan terutama dalam
melaksanakan proses belajar mengajar di kelas.
7.
Bapak dan ibu guru serta staf tata usaha SMA Handayani Sungguminasa yang telah
mendukung pelaksanaan P2K di SMA
Handayani Sungguminasa.
8.
Siswa/siswi SMA Handayani Sungguminasa yang telah berpartisipasi aktif dalam
kegiatan proses belajar mengajar selama kegiatan P2K berlangsung.
9.
Rekan – rekan mahasiswa P2K SMA Handayani Sungguminasa yang telah
bekerjasama dengan baik. Semoga kebersamaan itu memberikan hikmah yang
bermanfaat bagi kita semua.
Namun sepenuhnya penulis menyadari
bahwa laporan ini tidak luput dari kekurangan ataupun kesalahan, olehnya itu
penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun guna
penyempurnaan laporan selanjutnya.
Demikian laporan Observasi dan
Orientasi ini kami buat, semoga Allah SWT selalu mencurahkan Rahmat dan
karunia-Nya kepada hamba-Nya dan semua amal bakti kita dapat bernilai ibadah
disisi-Nya.
Amin Ya Rabbil Alamin.
Billahi Fiisabilil Haq Fastabiqul
Khaerat.
Sungguminasa,
Mei 2014
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Profil
Proses Pembelajaran di kelas
Program
Pemantapan Profesi Keguruan (P2K) berlokasi
di SMA Handayani
Sungguminasa, Kab. Gowa. Menempatkan penulis sebagai peneliti untuk meninjau pembelajaran yang terjadi di
dalam kelas. Dimana kelas
yang dipilih adalah kelas X. Sebab, kelas ini merupakan salah
satu kelas yang heterogen dari beberapa kelas. Keadaan siswanya sangat
bervariasi, ada yang memang pintar dalam hal Bahasa dan Sastra Indonesia atau
menguasai pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, ada juga yang sedang atau
biasa – biasa saja, ada juga yang sama sekali tidak suka atau memang tidak
senang dalam belajarBahasa dan Sastra Indonesia . Informasi tersebut di peroleh
dari hasil observasi yang dilakukan.
Dalam proses belajar mengajar yang dilakukan,
dipilih sebuah model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan situasi dan
kondisi para siswa. Model pembelajaran yang berusaha diterapkan adalah model
pembelajaran Kooperatif dengan Tipe NHT (Numbered Heads Together).
Proses
pembelajaran berlangsung dengan mengutamakan pemberian tindakan secara langsung
kepada peserta didik. Sesuai dengan penelitian yang akan dilaksanakan yakni
Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dengan
pemberian tindakan langsung
diharapkan dapat lebih meningkatkan motivasi belajar siswa, aktifitas siswa,
kreatifitas siswa, terlebih dalam meningkatkan hasil belajar siswa yang selama
ini dianggap masih kurang. Dengan demikian, maka peneliti menganggap perlu
adanya suatu metode atau model pembelajaran yang diberikan dalam bentuk sebuah
tindakan. Agar pembelajaran dalam kelas juga tidak berlangsung secara menoton
dan terjadi hanya satu arah, yaitu dari guru ke siswa. Lebih dari itu, peneliti berharap dengan
penerapan model pembelajaran ini
akan terjadi komunikasi timbal
balik antara guru ke siswa
dan siswa ke guru maupun siswa ke siswa.
Dalam
pembelajaran kooperatif tipe NHT
siswa dibentuk dalam beberapa kelompok kemudian setiap anggota kelompok
tersebut mendapat nomor. Setelah kelompok terbentuk selanjutnya siswa akan diberikan tugas untuk dikerjakan
secara berkelompok dengan catatan hasil diskusi kelompok harus dikuasai oleh
setiap anggota kelompok dan setiap anggota kelompok harus mampu
mempresentasikan hasil kelompoknya. Di dalam kelompok tersebut siswa diajak
untuk lebih kreatif, inovatif dan memiliki rasa kebersamaan yang kuat dalam tim
masing – masing. Dalam proses pembelajaran yang dilakukan ada beberapa aspek
yang diperhatikan disini, yakni, minat siswa, perhatian siswa, partisipasi
siswa, serta presentasi siswa di kelas. Proses pembelajaran di kelas
berlangsung dalam bentuk siklus. Ada beberapa kegiatan yang perlu diperhatikan
seorang guru dalam proses belajar mengajar yakni, apersepsi, penjelasan materi,
penjelasan metode Kooperatif tipe NHT, tekhnik pembagian kelompok, pengelolaan
kegiatan diskusi, pemberian pertanyaan atau kuis, kemampuan melakukan evaluasi,
memberikan penghargaan individu dan kelompok, menentukan nilai individu dan
kelompok dan menyimpulkan materi pembelajaran serta menutup pembelajaran.
Melalui
model pembelajaran inilah, diharapkan hasil belajar siswa semakin meningkat.
Oleh karena itu, maka peneliti merasa perlu menggunakan model pembelajaran Kooperatif
tipe NHT ini pada siswa kelas X. Karena
dengan melihat kondisi
pembelajaran sebelumnya, serta melihat keadaan siswa di kelas tersebut sangat
heterogen.
B. Profil Hasil Belajar
Hasil
pembelajaran yang dicapai pada sekolah ini pun tidak jauh berbeda dengan hasil
belajar yang dicapai sekolah-sekolah lain dalam hal bervariasinya nilai yang
dicapai masing-masing siswa setelah pelaksanakan evaluasi, hal ini diakibatkan
oleh beberapa faktor antara lain tingkat kecerdasan siswa yang berbeda-beda,
pengaruh lingkungan sekolah dan luar sekolah, dan tak lepas pula dari faktor
guru yang bersangkutan dalam penggunaan metode dan media dalam proses
pembelajaran.
Maka peneliti mampu
mendeskripsikan profil hasil belajar siswa di kelas X sebagai kelas yang sebenarnya menyimpan
potensi besar namun tidak terasah dengan baik. Kemampuan siswa terlihat kurang
berimbang dimana terdapat siswa yang begitu mendominasi kelas sementara siswa
lainnya cenderung pasif. Keadaan ini membuka mata kami untuk mengambil strategi
untuk memaksimalkan potensi mereka. Dalam hal ini sebagai peneliti dan observator
serta pengawas dalam proses belajar mengajar, di upayakan cara-cara yang tepat agar kemampuan yang di miliki siswa
dapat tersalurkan dengan maksimal.
C. Rumusan masalah berdasarkan
profil proses pembelajaran dan hasil belajar
Berdasarkan
profil proses pembelajaran dan hasil belajar, maka rumusan masalahnya yakni: “Apakah dengan
penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan hasil
belajar siswa kelas X. SMA Handayani Sungguminasa Gowa.”
D. Bentuk tindakan untuk memecahkan masalah sesuai dengan masalah
Bentuk
tindakan yang dilakukan dalam memecahkan masalah sesuai dengan permasalahan
yang ada dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah menggunakan model
pembelajaran Kooperatif tipe NHT. Dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif
tipe NHT ini, maka diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X
Sma Handayani Sungguminasa Gowa.
E. Argumentasi logis pilihan tindakan
Berdasarkan
masalah tersebut, penulis tertarik melakukan perbaikan pembelajaran dengan
melakukan penelitian tindakan kelas. Perbaikan awal yang dilakukan adalah
penerapan model pembelajaran yang lebih mengutamakan keaktifan siswa dan
memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan potensi secara maksimal.
Model pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran kooperatif.
Model
pembelajaran kooperatif tumbuh dari suatu tradisi pendidikan yang menekankan
berfikir dan latihan bertindak demokratis, pembelajaran aktif, perilaku
kooperatif, dan menghormati perbedaan dalam masyarakat multibudaya. Dalam
pelaksanaannya model pembelajaran kooperatif dapat merubah peran guru dari
peran terpusat pada guru keperan pengelolah aktivitas kelompok kecil. Sehingga
dengan demikian peran guru yang selama ini monoton akan berkurang dan peserta
didik akan semakin terlatih untuk menyelesaikan berbagai permasalahan, bahkan
permasalahan yang dianggap sulit sekalipun.
Beberapa
penelitian yang terdahulu menggunakan model pembelajaran kooperatif
menyimpulkan bahwa model pembelajaran tersebut telah memberikan masukan yamg
berarti bagi sekolah, guru, dan terutama peserta didik dalam meningkatkan
prestasi.
F. Tujuan
Mengacu
pada permasalahan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai melalui Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) ini
adalah “Untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Handayani
Sungguminasa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe NHT.”
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Landasan Teori
1. Pengertian belajar
Dalam
keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan
yang paling cocok bagi setiap orang. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian
tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang
dialami oleh siswa sebagai anak didik. Sekarang timbul pertanyaan apakah
belajar itu sebenarnya?. Tentu saja terhadap pertanyaan tersebut banyak
pendapat yang berbeda satu sama lain.
Ada
beberapa pandangan tentang belajar diantaranya :
Menurut
Gagne (syaiful sgala, 2003:13) berpendapat bahwa “Belajar adalah sebagai suatu proses dimana
suatu organismeberubah prilakunya sebagai akibat dari pengalaman.”
Gagasan
yang menyatakan bahwa belajar menyangkut perubahan dalam suatu organisme,
berarti belajar juga membutuhkan waktu dan tempat. Belajar disimpulkan terjadi,
bila tampak terjadi tanda-tanda bahwa perilaku manusia berubah sebagai akibat
terjadinya proses pembelajaran.
Adapun
defenisi belajar menurut Morgan (Ratumanan, 2004;1) adalah “Belajar dapat
didefenisikan sebagai setiap perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan
terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman”
Menurut
defenisi diatas seseorang mengalami proses belajar kalau ada perubahan dari
tidak tahu menjadi tahu dalam menguasai ilmu pengetahuan. Belajar disini merupakan
“suatu proses” dimana guru melihat apa yang terjadi selama murid menjalani
pengalaman edukatif untuk mencapai suatu tujuan yang harus diperhatikan dari
siswa adalah pola perubahan pada pengetahuan selama pengalaman belajar itu
berlangsung.
Berdasarkan
uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah
laku yang secara keseluruhan, sebagai akibat dari pengalaman dan latihan,
denagn perubahan-perubahan yang dihasilkan bersifat relative tetap.
2. Hasil Belajar Bahasa Indonesia
Hasil belajar adalah
kecakapan yang diperoleh melalui proses belajar. Hasil belajar merupakan ukuran
yang menyatakan seberapa jauh tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa dengan
pengalaman yang telah diberikan dan disiapkan oleh sekolah. Hal ini sejalan
dengan pengertian yang dikemukakan oleh Bahri (Kasmawati; 2006:7) yang
menyatakan bahwa:” hasil belajar adalah suatu yang diperoleh dan suatu kegiatan
yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun kelompok. Hasil
tersebut tidak akan diperoleh selama seseorang tidak melakukan suatu kegiatan.
Jadi hasil belajar Bahasa
Indonesia merupakan sesuatu yang dicapai oleh siswa melalui suatu proses
belajar matematika, untuk menentukan hasil belajar Bahasa Indonesia dilakukan
evaluasi hasil belajar yang biasanya menggunakan alat evaluasi yang berupa tes.
3. Pembelajaran Kooperatif
a. Pengertian pembelajaran kooperatif
Pembelajaran kooperatif
bukanlah model baru dalam Proses Belajar Mengajar, karena sesungguhnya
pembelajaran kooperatif telah dilaksanakan oleh guru dengan
terprogram dalam satuan pelajarannya (SP) yaitu pada langkah-langkah pembelajaran, akan tetapi guru tidak
mengetahui bahkan sering kali dalam proses pembelajaran tak
dapat dilaksanakan sesuai program karena faktor intern dan ekstern yang terjadi saat jalannya proses belajar
mengajar, dan guru akan mengubah model pembelajaran tersebut, misalnya
menggunakan metode pembelajaran tradisional dimana guru mendominasi kelas atau
dengan metode ceramah- Tanya jawab atau pengerjaan soal-soal sebagai latihan.
Dengan adanya pembaharuan dalam
pergerakan refomasi pendidikan Pembelajaran kooperatif dimasukan sebagai suatu
keharusan, pembelajaran kooperatif telah merangkum banyak
model pembelajaran. Pada dasarnya pembelajaran kooperatif menggalahkan siswa
untuk belajar bekerja sama dalam kelompok, atau menjadi suatu tim yang baik
dengan saling melengkapi.
Pembelajaran
koopeatif dilaksanakan dalam kelompok - kelompok kecil supaya
pelajar-pelajar dapat berkerjasama dalam kelompok masing-masing untuk
mempelajari materi pelajaran sesuai kecakapan dan kemapuan bekerja sama.Pada
dasarnya pembelajaran kooperatif melibatkan pelajar bekerjasama dalam mencapai
tujuan pembelajaran yang dirancang guru sebelumnya dan guru berfungsi
sebagai fasilitator dan pengayom maka pembelajaran kooperatif dimaksudkan agar
siswa benar-benar menerima ilmu dari pengalaman belajar bersama-sama dengan
rekan-rekannya baik yang sudah dikatakan cakap maupun yang masih dikatakan
lemah dalam memahami konsep/materi pelajaran(http://www.geocities.com/gardner02_8/ilmiah1.htm).
Dari
uraian-uraian di atas penulis dapat nyatakan bahwa pembelajaran
kooperatif yaitu gabungan dari berbagai model pembelajaran yang menitik
beratkan untuk siswa berkreasi, bekerja sama dan mampu berkomunikasi dalam
kelompoknya juga antar kelompok dengan siswa lain sekelasnya sehingga ada
pengalaman belajar yang baik.
b.
Ciri
- Ciri Pembelajaran Kooperatif:
1.
Belajar dalam Kelompok
Pembagian Kelompok Belajar diarahkan untuk
mencapai keberhasilan dalam menguasai suatu konsep yang di ajar.
Tujuannya agar hasil yang dicapai melalui usaha bersama dari seorang
wakil yang dipercayakan di dalam kelompok tersebut. Dalam kelompok
ini setiap wakilnya mempunyai peranan tertentu dan jelas dalam usaha kelompok
mencapai tujuan yang ditetapkan, kelompok yang dibentuk guru bukan kelompok
besar tetapi paling banyak terdiri dari 5 orang, juga diperhatikan keberadaan
personil tiap kelompok dan diatur secara homogen maupun heterogen agar jalannya
pembelajaran efektif dan efisien.
2.
Interaksi
sosial ditekankan
Setiap
wakil dari kelompok akan bertemu dalam satu kelompok dan membahas secara
bersama-sama yang selanjutnya hasil yang diperoleh akan dibawakan kembali dalam
kelompoknya semula, dengan demikian pembahasan menjadi berkembang, wakil kelompok
mempunyai tanggung jawab memajukan
pemahaman anggota kelompoknya maka dia dianggap sanggup untuk menerima dan
memberi suatu informasi/konsep pelajaran pada anggota kelompoknya.
3.
Kerja Sama antar
Siswa dalam Mencapai Tujuan.
Keberhasilan
kelompok akan tergantung kepada pemahaman individu-individu anggotanya. Setiap
anggota mempunyai tanggungjawab untuk dapat memberi suatu masukan yang berarti
pada kelompoknya. Ini dikenal sebagai prinsip kerja sama kelompok Untuk
mencapai keberhasilan. Dalam prinsip ini, tugas diberikan kepada semua wakil
dari kelompok untuk kemudian dipresentasikan. Tanggungjawab tiap wakil kelompok
tersebut dimaksudkan agar setiap pelajar dapat aktif dalam kelompoknya.
Selanjutnya agar setiap pelajar mendapat kesempatan yang sama untuk mengambil
bagian dalam pembahasan kelompoknya, dengan begitu kecakapan seorang
anggota dapat diberikan kepada anggota lain.
c. Kelebihan
Pembelajaran Kooperatif
Slavin (ratumanan, 2004;133) mengemukakan
bahwa pembelajaran koopertif memberikan beberapa keuntungan, yakni:
v
Siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan
menjunjung tinggi norma norma kelompok.
v
Siswa aktif membantu dan mendorong semangat
untuk sama-sama berhasil.
v
Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih
meningkatkan keberhasilan kelompok.
v
Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan
kemampuan mereka dalam berpendapat.
Interaksi antar siswa juga
membantu meningkatkan perkembangan kognitif yang non konservatif menjadi konservatif
(Teori Piaget). Menurut Kagan
(1994) , pembelajaran kooperatif bagi golongan berbakat telah membawa banyak
keberkesanan atau faedah seperti berikut :
§ Memperbaiki
hubungan social antar siswa
§ Meningkatkan
prestasi belajar
§ Meningkatkan
kepimpinan
§ Meningkatkan
kemahiran sosial
§ Meningkatkan kemahiran berkomunikasi
§ Meningkatkan
pengetahuan akan teknolog
§ Meningkatkan
rasa percaya diri
d.
Langkah-Langkah
Pembelajaran Kooperatif
Menurut
Ibrahim (2006:10), keenam langkah
pembelajaran kooperatif disajikan dalam
bentuk tabel berikut ini.
Table 1. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif.
Fase
|
Tingkah laku
guru
|
Fase 1
Menyampaikan
tujuan dan memotivasi siswa
|
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada
pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
|
Fase 2
Menyajikan
informasi.
|
Guru
menyajikan informasi dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
|
Fase 3
Mangorganisasikan
siswa kedalam kelompok-kelompok belajar.
|
Guru
menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan
membantu setiap kelompok belajar agar melakukan transisi secara efesien.
|
Fase 4
Membimbing
kelompok bekerja dan belajar.
|
Guru
membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
|
Fase 5
Evaluasi
|
Guru
mengevalusi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau
masing-masingkelompokmempresentasikan hasil kerjanya.
|
Fase 6
Memberikan
penghargaan.
|
Guru mencari
cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan
kelompok.
|
4.
Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT)
Sebagai
seorang profesional, guru harus mempunyai pengetahuan dan persediaan strategi
pembelajaran. Tidak semua strategi yang diketahui harus dan bisa diterapkan
dalam kenyataan sehari-hari di ruang kelas. Guru yang ingin maju dan berkembang
perlu mempunyai persediaan strategi dan teknik-teknik pembelajaran yang pasti
akan selalu bermanfaat dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar
sehari-hari. Salah satu teknik mengajar gotong royong adalah tipe Numbered
Heads Together (NHT) atau Teknik Kepala Bernomor.
Metode
ini dikembangkan oleh Spencer Kagan (1993) dengan melibatkan para siswa dalam
mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa
pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut.
Teknik
belajar mengajar Kepala Bernomor (Numbered Heads Together) menurut Lie (Yulianni,2008:14), bahwa “Teknik belajar mengajar
Kepala Bernomor (NHT) adalah suatu teknik yang memberikan kesempatan kepada
siswa untuk saling membagi ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling
tepat.”
Teknik
belajar mengajar Kepala Bernomor (Numbered Heads Together) dapat
mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerjasama mereka. Teknik Kepala
Bernomor dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan
usia anak didik.
Adapun
langkah-langkah dalam teknik belajar mengajar Kepala Bernomor (Numbered
Heads Together) yaitu:
1.
Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap
kelompok mendapat nomor.
2.
Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok
mengerjakannya.
3.
Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar
dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini.
4.
Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor
yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka.
Adapun sintaks model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads
Together (NHT) sebagai berikut:
Tabel
2.2 Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Heads Together(NHT)
FASE
|
TINGKAH LAKU
|
Fase-1
Menyampaikan tujuan dan
memotivasi siswa
Fase-2
Menyajikan informasi
Fase-3
Mrngorganisasikan siswa kedalam
kelompok-kelompok belajar
Fase-4
Membimbing kelompok bekerja dan
belajar.
Fase-5
Evaluasi
Fase-6
Memberikan penghargaan
|
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran (indicator hasil
belajar). Guru memotivasi siswa. Guru mengaitkan pelajaran sekarang dengan
yang terdahulu.
Guru menyajikan informasi kepada
siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Guru mengorganisasikan siswa
ke dalam kelompok-kelompok belajar dan menjelaskan bagaimana caranya seperti:
a.
Setiap kelompok beranggotakan 3-5 orang heterogen dan
setiap anggots kelompok diberi nomor 1 sampai 5 (penomoran)
b.
Guru mengajukan pertanyaan
c.
Guru meminta siswa mendiskusikan pertanyaan secara
kelompok (berpikir bersama)
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar
pada saat mereka mengerjakan tugas.
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang
materi yang telah dipelajari atau meminta siswa menjawab pertanyaan dengan
memanggil satu nomor.
Guru memberikan penghargaan
kepada siswa yang berprestasi untuk menghargai upaya maupun hasil belajar
siswa baik secara individu maupun kelompok.
|
BAB III
PROSEDUR
PELAKSANAAN
A.
Jumlah siswa, tempat, dan waktu pelaksanaan P2K
a.
Jumlah
siswa
Subjek penelitian ini adalah siswa
kelas X Sma Handayani Sungguminasa, sebanyak
32 orang siswa yang terdiri dari 18 orang siswa laki-laki dan 15 orang siswa perempuan. Pelaksanaan P2K dilaksanakan sebanyak 2
siklus, setiap siklus berlangsung selama 4 kali pertemuan yang terdiri dari 3
kali pertemuan proses belajar mengajar dan 1 kali pertemuan untuk tes hasil
belajar.
b.
Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di
kelas X SMA Handayani
Sungguminasa Gowa untuk mata pelajaran Bahasa dan
Sastra Indonesia.
c.
Waktu Pelaksanaan
Penelitian dilaksanakan pada akhir tahun
ajaran 2013/2014 yaitu Maret sampai bulan Mei 2014. Penentuan waktu penelitian mengacu
pada kalender akademik sekolah, karena PTK memerlukan beberapa siklus yang
membutuhkan proses belajar mengajar yang efektif di kelas.
B.
Langkah – langkah pembuatan perangkat
pembelajaran inovatif seperti RPP dan alat evaluasi.
Langkah
pertama adalah meminta Silabus pada guru Bahasa Indonesia (Guru Pamong),
langkah kedua menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), serta merumuskan
alat evaluasi berupa soal – soal dalam bentuk kelompok dan individu.
Selanjutnya dapat dilihat pada bagan alur di bawah ini:
|
Studi Pendahuluan dengan meneliti silabus.
|
|
Menyusun RPP dan Rencana tindakan Siklus 1
|
|
Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan
|
|
Refleksi
|
|
Rencana Tindakan Siklus 2
|
|
Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan
|
|
Refleksi
|
|
Simpulan
|
Setelah
menyusun Rencana Pelakasanaan Pembelajaran (RPP), maka proses belajar mengajar
pun dapat dimulai. Implementasi dari RPP meliputi Pembukaan, penjelasan Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar, pemaparan tujuan pembelajaran, penyampaian
materi, penyampaian metode pembelajaran yang dilaksanakan, pembentukan
kelompok, mengarahkan siswa dalam kelompoknya, membuat kesimpulan dan penutup.
Evaluasi di kelas dilaksanakan dalam bentuk kuis, tugas individu, dan uji
kompetensi. Selanjutnya dapat dilihat pada lampiran mengenai RPP dan alat
evaluasi.
D. Variabel – VariabelPenelitian
Secara
umum ada dua variabel dalam penelitian ini yaitu variabel bebas dan variabel
terikat. Sebagai variabel bebasnya adalah penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe NHT dalam pembelajaran matematika kelas VIII1, sedangkan variabel
terikatnya adalah hasil belajar Bahasa Indonesia.
E. Prosedur Penelitian
Penelitian
ini adalah penelitian tindakan kelas yang berlangsung selama dua siklus.
Rancangan masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan
tindakan, pelaksanaan tindakan, evaluasi,dan refleksi (Kemmis dan
Taggart,1998).
Adapun
kriteria keberhasilan untuk setiap siklus adalah jika seluruh subyek penelitian
dapat terpenuhi, subyek penelitian tersebut meliputi: a) Dapat memahami materi
yang sedang dipelajari, b) Dapat menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan
materi yang dipelajari, c) Senang dan aktif mengikuti pembelajaran, d)
Memperoleh skor pada tes akhir tindakan minimal 65.
BAB IV
HASIL PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN
Hasil
dan analisis data penelitian dibuat berdasarkan data yang diperoleh dari
kegiatan penelitian tentang hasil belajar siswa melalui pembelajaran kooperatif
tipe Numbered Heads Together(NHT) yang telah
dilaksanakan di SMP Negeri 1
Pallangga. Pelaksanaan ini dilaksanakan dua siklus yaitu siklus I dan
siklus II, adapun yang dianalisis adalah hasil tes awal, tes akhir siklus I dan
tes akhir siklus II.
Hasil
dan pembahasan yang diperoleh dari dua siklus pelaksanaan penelitian ini dapat
diuraikan sebagai berikut:
A. Peningkatan Hasil Belajar Siswa
1.
Analisis Deskriptif Hasil Belajar Sebelum Menggunakan Pembelajaran
Kooperatif TipeNumbered Heads Together(NHT).
Berdasarkan
analisis deskriptif tes awal,
hasil belajar siswa dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel
1. Statistik skor penguasaan siswa sebelum menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together(NHT)
Satistik
|
Nilai Statistik
|
Subjek
Skor Ideal
Skor Maksimum
Skor Minimum
Rentang Skor
Skor Rata-rata
Standar deviasi
|
37
100
80
18
62
43,43
12,64
|
Pada
tabel 1 menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar Bahasa Indonesiasebelum
menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah 43,43 dari skor ideal 100.
banyaknya siswa yang tuntas sebanyak 2 orang (5,41%) dengan standar deviasi
12,64. skor maksimal yang diperoleh siswa pada tes awal adalah 80 dan skor
minimum yang diperoleh siswa adalah 18.
Apabila
kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal pada tes awal dianalisis, maka persentase
ketuntasan belajar siswa pada tes awal dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. distribusi frekuensi ketuntasan belajar siswa pada
tes awal
Skor
|
Frekuensi
|
Persen
|
Kategori
|
0-74
75-100
|
35
2
|
94,59
5,41
|
Tidak
tuntas
Tuntas
|
Dari
tabel 2 menunjukkan bahwa pada tes awal persentase ketuntasan siswa sebesar
5,41% yaitu 2 dari 37 siswa termasuk dalam kategori tuntas, 94,59% yaitu 35
dari 37 siswa termasuk dalam kategori tidak tuntas, artinya dari 37 siswa lebih
banyak yang belum tuntas dan memerlukan
perbaikan pada siklus I.
2.
Analisis
Deskriptif Hasil Tes Akhir Siklus I
Pada
siklus ini dilaksanakan tes hasil belajar yang berbentuk ulangan harian. Adapun
analisis deskriptif skor perolehan siswa setelah diterapkan kooperatif setelah
diterapkan kooperatif tipe Numbered Heads Together(NHT)
selama siklus I dan dapat dilihat pada tabel 3 berikut:
Tabel 3. Statistik Skor Penguasaan Siswa Pada Tes Siklus I
Satistik
|
Nilai statistik
|
Subjek
Skor Ideal
Skor Maksimum
Skor Minimum
Rentang Skor
Skor Rata-rata
Standar deviasi
|
35
100
85
10
75
46,03
20,91
|
Pada
tabel 3 menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar Bahasa Indonesiasetelah
diterapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together(NHT)
pada siklus I adalah 46,03 dari skor ideal 100. Banyaknya siswa yang tuntas 4
orang dengan persentase 11,43% dan belum tuntas sebanyak 31 orang dengan
persentase 88,57%. Dengan standar deviasi 20,91. Skor maksimum yang diperoleh
siswa pada tes siklus I sudah mengalami peningkatan dimana skor rata-rata dari
43,43 meningkat menjadi 46,03.
Apabila
kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal pada tes siklus I dianalisis, maka
persentase ketuntasan belajar siswa pada tes siklus I dapat dilihat pada tabel
4.
Tabel 4. Distribusi frekuensi ketuntasan belajar siswa pada
tes siklus I
Skor
|
Frekuensi
|
Persen
|
Kategori
|
0-74
75-100
|
31
4
|
88,57
11,43
|
Tidak
tuntas
Tuntas
|
Dari tabel 2 menunjukkan bahwa pada tes siklus I persentase ketuntasan
siswa sebesar 11,43% yaitu 4 dari 35 siswa termasuk dalam kategori tuntas,
88,57% yaitu 31 dari 35 siswa termasuk dalam kategori tidak tuntas, artinya
dari 35 siswa sebagian kecil yang belum tuntas dan memerlukan perbaikan pada
siklus II.
3.
Analisis Deskriptif Hasil Tes Akhir Siklus II
Pada
siklus ini diterapkan metode pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan menetapkan
dan membenahi kekurangan yang terjadi pada siklus I dan dapat dilihat pada
tabel 5.
Tabel 5. Statistik Skor Penguasaan Siswa Pada Tes Siklus II
Satistik
|
Nilai statistic
|
Subjek
Skor Ideal
Skor Maksimum
Skor Minimum
Rentang Skor
Skor Rata-rata
Standar deviasi
|
34
100
100
18
82
62,47
25,62
|
Pada
tabel 5 menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar Bahasa Indonesia setelah
diterapkan metode pembelajaran kooperatif tipe NHT pada siklus II adalah 62,47
dari skor ideal 100. Banyaknya siswa yang tuntas 10 orang dengan persentase
29,41% dan belum tuntas sebanyak 24 orang dengan persentase 70,59%. Dengan
standar deviasi 25,62. Skor maksimum yang diperoleh siswa pada tes siklus II
sudah mengalami peningkatan dimana skor rata-rata dari 46,03 pada siklus I
meningkat menjadi 62,47 pada siklus II.
Apabila
kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal pada tes siklus II dianalisis, maka
persentase ketuntasan belajar siswa pada tes siklus Il dapat dilihat pada tabel
6.
Tabel
6. Distribusi frekuensi ketuntasan belajar siswa pada tes siklus II
Skor
|
Frekuensi
|
Persen
|
Kategori
|
0-74
75-100
|
24
10
|
70,59
29,41
|
Tidak
tuntas
Tuntas
|
Dari
tabel 6 menunjukkan bahwa pada tes siklus II persentase ketuntasan siswa
sebesar 29,41% yaitu 10 dari 34 siswa termasuk dalam kategori tuntas, 70.58%
yaitu 24 dari 34 siswa termasuk dalam kategori tidak tuntas, artinya dari tes
siklus I ke tes siklus II mengalami
peningkatan yaitu dari 4 siswa yang tuntas pada tes siklus I meningkat pada tes
siklus II menjadi 10 siswa.
Hal
ini disebabkan karena pada siklus II ini, para siswa sudah mulai beradaptasi
dan terbiasa dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe NHT, setelah
dilakukan pembenahan mengenai hal-hal yang dianggap kurang pada siklus I.
B. Hasil Analisis Kualitatif
Tabel 7: HasilObservasi Sikap Siswa Selama Mengikuti
Pembelajaran Siklus I
No
|
Komponen yang diamati
|
Pertemuan
|
Σ
|
X%
|
|||
1
|
2
|
3
|
4
|
||||
1
|
siswa yang hadir pada
saat pembelajaran
|
37
|
33
|
30
|
Tes Akhir Siklus I
|
100
|
83,33
|
2
|
siswa yang bertanya tentang materi pelajaran yang belum di mengerti
|
6
|
4
|
3
|
13
|
10.83
|
|
3
|
siswa yang menyelesaikan soal di papan tulis
|
7
|
3
|
5
|
15
|
12,5
|
|
4
|
siswa yang aktif pada saat kerja kelompok
|
3
|
4
|
5
|
12
|
10
|
|
5
|
siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat kerja kelompok
|
3
|
4
|
3
|
10
|
8,33
|
|
6
|
siswa yang mengumpulkan
PR
|
-
|
33
|
30
|
63
|
52,5
|
|
No
|
Komponen yang diamati
|
Pertemuan
|
Σ
|
X%
|
|||
1
|
2
|
3
|
4
|
||||
1
|
siswa yang hadir
pada saat pembelajaran
|
38
|
39
|
35
|
Tes Akhir Siklus II
|
112
|
93,33
|
2
|
siswa yang bertanya
tentang materi pelajaran yang belum di mengerti
|
3
|
6
|
7
|
16
|
13,33
|
|
3
|
siswa yang
menyelesaikan soal di papan tulis
|
2
|
2
|
2
|
6
|
5
|
|
4
|
siswa yang aktif
pada saat kerja kelompok
|
4
|
3
|
4
|
10
|
8,33
|
|
5
|
siswa yang melakukan
kegiatan lain pada saat kerja kelompok
|
3
|
3
|
6
|
12
|
10
|
|
6
|
siswa yang
mengumpulkan PR
|
-
|
38
|
35
|
73
|
60,83
|
|
Tabel 8: Hasil
observasi sikap siswa selama mengikti pembelajaran siklus II
Disamping
peningkatan hasil matematika, selama penelitian pada siklus I dan siklus II
tercatat sejumlah perubahan yang terjadi selama proses belajar mengajar berlansung.
Perubahan tersebut merupakan data kualitatif yang diperoleh dari lembar
observasi pada setiap pertemuan yang dicatat pada tiap siklus dan catatan teman
sejawat selaku observer untuk mengetahui perubahan kesiapan siswa dalam
mengikuti proses belajar mengajar selama penelitian ini berlansung.
Berikut
ini adalah data perubahan siswa selama kegiatan proses belajar mengajar:
1.
Kehadiran siswa semakin meningkat dari 83,33% pada
siklus I menjadi 93,33% pada siklus II.
2.
Keaktifan siswa dalam kegiatan kelompok terjadi
peningkatan dari 10,83% pada siklus I menjadi 13,33% pada siklus II. Hal ini
disebabkan karena siswa menyadari akan pentingnya saling kerja sama dalam
berkelompok dimana kita dapat menyelesaikan soal-soal yang sulit bersama teman
kelompoknya.
3.
Siswa yang
melakukan kegiatan lain pada saat diskusi kelompok ketika pembelajaran
kooperatif tipe NHT telah diterapkan sudah terjadi penurunan yaitu dari 12,5%
menurun menjadi 5%. Hal ini disebabkan karena terjalin kerjasama kelompok dalam
menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.
4.
Siswa yang bertanya tentang materi yang belum
dimengerti mengalami penurunan dari 10% pada siklus I menjadi 8,33% pada siklus
II. Hal ini disbabkan karena siswa menyadari akan pentingnya dalam
memperhatikan materi yang dijelaskan oleh guru.
5.
Siswa yang mengajukan diri untuk mengerjakan soal
dipapan tulis mengalami peningkatan dari 8,33% pada siklus I menjadi 10% pada
siklus II. Hal ini disebabkan karena mereka termotivasi oleh temannya yang
lain, yang selalu mengerjakan soal di papan tulis. Dan guru juga selalu
memotivasi untuk bersaing secara sehat untuk mengerjakan soal di papan
tulis.
6.
Siswa yang mengumpulkan PR mengalami peningkatan dari
52,5% pada siklus I menjadi 60,83% pada siklus II. Hal ini disebabkan karena
guru mengembalikan PR kepada masing-masing siswa sehingga yang tidak
mengumpulkan PR akan merasa malu kepada siswa yang lain yang mendapatkan nilai
dari PR yang dikerjakannya. Hal ini juga dapat memotivasi siswa dalam
mengerjakan PR.
C. Refleksi Terhadap Pelaksanaan Tindakan Dalam
Proses Belajar Bahasa Indonesia
1.
Pandangan siswa terhadap mata pelajaran Bahasa
Indonesia dapat dikatakan mengalami perubahan kearah yang lebih positif. Hal
ini dapat terlihat dari interaksi yang terjadi baik antara siswa dengan siswa
maupun guru dengan siswa di kelas.
2.
Pandangan siswa terhadap penerapan model pembelajaran
kooperatif dengan metode NHT, untuk hal ini tersebut umumnya siswa menanggapi
dengan positif. Mereka menganggap bahwa metode pembelajaran tersebut memberikan
peluang kepada mereka untuk lebih memahami materi, sedangkan ketua kelompok
menjadi asing untuk menumbuhkan motivasi belajar pada dirinya untuk bersaing
secara sehat. Disamping itu, pada pembelajaran ini siswa dapat menumbuh
kembangkan kekompakkan antara anggota kelompok terutama pada saat mereka
mendiskusikan atau bertukar pikiran untuk mencari jawaban yang benar sehingga
lebih berkesan dan mudah diingat.
3.
Soal kuis yang
diberikan sekaligus berfungsi menjadi jelas diagnostik dapat secara langsung
menguji kemampuan siswa. PR yang diberikan juga sangat membantu siswa untuk
secara langsung menguji atau mengulangi apa yang telah dipahami pada saat
pembelajaran di sekolah
4.
Pemberian pujian atau penghargaan kepada siswa yang
mengerjakan tugas yang diberikan merupakan salah satu faktor yang memotivasi
siswa untuk lebih meningkatkan cara belajarnya.
D. Pembahasan
Dari
hasil observasi yang dilakukan selama dua siklus dengan menerapkan metode
pembelajaran kooperatif tipe NHT memberikan banyak perubahan pada siswa antara
lain:
1.
Siswa lebih termotivasi untuk belajar
2.
Siswa merasa senang dengan metode yang diterapkan
3.
Siswa merasa lebih akrab dengan teman-temannya
4.
Siswa mempunyai kepercayaan dalam mengerjakan soal-soal
di papan tulis.
Diawal
pertemuan terdapat kendala yang terjadi dalam proses pembelajaran yaitu masih
adanya siswa yang tidak mmpunyai keberanian dalam menjawab pertanyaan,
bertanya, mengerjakan soal di papan tulis, serta mengerjakan soal kuis dan
pekerjaan rumah (PR). Tapi hal ini tidak berlangsung lama karena diakhir siklus
I sudah terjadi perubahan pada siswa tersebut.
Pada
siklus II kendala yang ditemukan disiklus I sudah terkendali terlihat dari
semakin meningkatnya minat belajar siswa dan mampu menyelesaikan soal-soal yang
diberikan oleh peneliti, pada siklus I persentase kehadiran siswa 83,33%
meningkat menjadi 93,33% pada siklus II. Serta skor rata-rata yang dicapai
siswa pada siklus I 46,03 meningkat menjadi 62,47 pada siklus II.
Berdasarkan
pada indikator keberhasilan, siswa dikatakan tuntas apabila memperoleh skor
minimal 75% dari skor ideal dan tuntas belajar secara klasikal apabila 80% dari
jumlah siswa telah tuntas belajar. Dari data yang diperoleh setelah perlakuan
dapat ditunjukkan bahwa pada siklus I terdapat 4 orang siswa yang tuntas
belajar dengan persentase 11,43% sedangkan pada siklus II terdapat 10 orang
siswa yang tuntas belajar dengan persentase 29,11%. Dengan melihat dari
persentase ketuntasan belajar tersebut mengalami peningkatan, maka jelas
terlihat bahwa telah mencapai ketuntasan berdasarkan pada indikator
keberhasilan tetapi tidak tuntas belajar secara klasikal.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan
hasil penelitian tindakan kelas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Peranan pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT dapat
meningkatkan aktivitas proses belajar mengajar.
2.
Dari hasil observasi memperlihatkan bahwa terjadi
peningkatan dari siklus I kesiklus II.
3.
Kemampuan dalam diskusi kelompok juga mengalami
kemajuan yang sangat berarti. Hal ini disebabkan karena siswa sudah mulai
terbiasa belajar kelompok.
4.
Penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran
menunjukkan peningkatan. Hal ini dapat ditunjukkan hasil rata-rata ulangan
harian (rata-rata ulangan harian I tanpa pembelajaran kooperatif tipe NHT 43,43
menjadi 46,03 (ulangan harian II memakai pembelajaran kooperatif tipe NHT) dan
kemudian meningkat menjadi 62,47 pada ulangan harian III pada siklus II.
5.
Pembelajaran kooperatif tipe NHT relevan dengan
pembelajaran kontekstual.
6.
Melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT, siswa membangun
sendiri pengetahuannya, menemukan langkah-langkah dalam mencari sendiri penyelesaikan dari suatu
materi yang harus dikuasai oleh siswa, baik secara individu atau kelompok.
7.
Dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT, pelajaran
Bahasa Indonesia yang biasanya dianggap sulit bagi sebagian siswa menjadi
menyenangkan.
B. Saran
Telah
terbukti dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan hasil
belajar siswa kelas X dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, maka kami sarankan
sebagai berikut:
1.
Dalam kegiatan belajar mengajar guru diharapkan
menjadikan pembelajaran kooperatif tipe NHT sebagai suatu alternatif untuk
meningkatkan hasil belajar siswa khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia.
2.
Karena kegiatan ini sangat bermanfaat bagi guru dan
siswa, maka kegiatan ini dapat dilakukan secara berkesinambungan dalam
pelajaran Bahasa Indonesia ataupun pelajaran lain.
DAFTAR PUSTAKA
Haling, Abdul.
2007. Belajar dan Pembelajaran.
Makassar: Badan Penerbit UNM.
Ibrahim, Muslim.
2000. Pembelajaran Kooperatif. UNESA.
Universitas press Kampus UNESA. Surabaya.
Manadira. 2007. Peningkatkan
hasil belajar Bahasa Indonesia siswamelalui model
kooperatif tipe jigsaw kelas VII IPA.2 SMA Negeri 2 Bima.Skripsi UNISMUH Makassar.
Ratumanan. 2004.
Belajar dan Pembelajaran. Ambon:
Unesa University Press.
Suherman, Erman.
2003. Strategi Pembelajaran Bahasa
Indonesia Kontemporer. Jurusan Bahasa
Indonesia FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.
Winkel, W.S. 2004. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.

Komentar
Posting Komentar