Contoh laporan P2k




LAPORAN
Pemantapan Profesi Keguruan (P2K)



SMA HANDAYANI SUNGGUMINASA


Oleh :
                                             Nama      : ANSAR SAAD
                                             Nim         : 105 3306387 10


PROGRAM STUDI STRATA 1 (S.1)
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2014






 LEMBAR
PENGESAHAN KEGIATAN PROFESI KEGURUAN

Laporan Program Pemantapan Profesi Keguruan (P2K) berkaitan dengan kegiatan profesi keguruan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar di SMA Handayani Sungguminasa Gowa tahun ajaran 2013/2014 dinyatakan diterima dan disahkan.

Yang melaksanakan kegiatan ini adalah:
Nama                             : ANSAR SAAD
NIM                               : 105 3306387 10
Jurusan                           : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Program Studi               : Strata 1
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)

                                                                                           Sungguminasa,    Mei 2014
 Disahkan oleh,

Dosen Pembimbing                                                                           Guru Pembimbing
           


St.Fitriani Saleh, M.Pd                                                                      Hj. Syanti, S.Pd
NBM:858638
Mengetahui,
         Kepala SMA Handayani Sungguminasa



H. SUKRI, SE





LEMBAR PENILAIAN
Berdasarkan pengamatan dan laporan Program Pemantapan Profesi Keguruan (P2K) berkaitan dengan kegiatan profesi keguruan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar.

Nama                                    : ANSAR SAAD
NIM                          : 105 3306387 10
Jurusan                      : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Program Studi           : Strata 1
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)

Maka guru dan dosen pembimbing memberikan nilai A/ B/ C/ D/ E)* (…………….) pada kegiatan ini.

                                                                                    Sungguminsa,               Mei 2014
 Dosen Pembimbing,                                                                          Guru Pembimbing,
           

St.Fitriani Saleh, M.Pd                                                                          Hj. Syanti, S.Pd
NBM:858638                                                                  

)*coret yang tidak perlu


FORMAT LAPORAN

Lembar Pengesahan............................................................................................ i
Lembar Penilaian................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
A.    Profil Proses Pembelajaran di kelas...........................................................
B.     Profil Hasil Belajar....................................................................................
C.     Rumusan Masalah berdasarkan profil proses pembelajaran dan hasil belajar
D.    Bentuk tindakan untuk memecahkan masalah sesuai dengan masalah.....
E.     Argumentasi logis pilihan tindakan...........................................................
F.      Tujuan........................................................................................................
BAB II KAJIAN PUSTAKA.............................................................................
            Relevansi antara konsep/ teori yang dikaji dengan permasalahan.
BAB III PROSEDUR PELAKSANAAN.........................................................
A.    Jumlah siswa, tempat, dan waktu pelaksanaan P2K.................................
B.     Langkah – langkah pembuatan perangkat pemelajaran inovatif seperti RPP dan alat evaluasi         
C.     Implementasi RPP dan Evaluasi di kelas..................................................
D.    Variabel-Variabel Penelitian......................................................................
E.     Prosedur Penelitian....................................................................................
F.      Metode Pengumpulan Data.......................................................................
G.    Teknik Analisa Data & Kriteria Keberhasilan...........................................
BAB IV HASIL PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN...........................
A.    Hasil Pelaksanaan......................................................................................
B.     Pembahasan...............................................................................................
BAB V SIMPULAN DAN SARAN..................................................................
A.    Simpulan....................................................................................................
B.     Saran..........................................................................................................
Daftar Pustaka....................................................................................................


KATA PENGANTAR

            Alhamdulillah Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat Rahmat dan karunia-Nya sehingga program Pemantapan Profesi Keguruan (P2K) oleh Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar di SMA Handayani Sungguminasa, Kabupaten Gowa tahun ajaran 2013/2014 yang berlangsung selama kurang lebih 2 bulan dapat berjalan sebagaimana mestinya sampai dengan terselesaikannya laporan ini.
             Program Pemantapan Profesi Keguruan (P2K) yang merupakan salah satu persyaratan akademik dalam lingkungan Universitas Muhammadiyah Makassar khususnya pada jurusan Bahasa Inggris yang berorientasi pada penerapan dan penelitian sekaligus latihan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama berkuliah. Hasil yang diperoleh selama melaksanakan program Pemantapan Profesi Keguruan (P2K) baik laporan pelaksanaan proses belajar mengajar maupun hasil observasi di harapkan mampu memberikan manfaat bagi para pembaca.
            Program Pemantapan Profesi Keguruan (P2K) ini dapat terlaksana dan berjalan hingga akhir sesuai dengan yang diharapakan karena dalam pelaksanaanya tidak terlepas dari bantuan moril dan materil dari berbagai pihak yang telah mendukung kami selama pelaksanaan program P2K ini berlangsung. Olehnya itu kami selaku Mahasiswa/Mahasiswi P2K di SMA Handayani Sungguminasa  mengucapkan terima kasih yang sedalam – dalamnya serta pengharapan yang tak ternilai kepada:
1.      Bapak Dr. H. Irwan Akib, M.Pd., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
2.      Bapak Dr. A. Sukri Syamsuri, M.Hum.,  Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
3.      Bapak H. Sukri, SE , selaku Kepala Sekolah di SMA Handayani Sungguminasa.
4.     

iii
Ibu Dr. Munirah, M.Pd, sebagai ketua jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar.
5.      Ibu St. Fitriani Saleh S.Pd.,M.Pd sebagai dosen pembimbing yang dengan senang hati memberikan motivasi dan bimbingan kepada kami.
6.      Ibu Hj. Syanti,S.Pd sebagai guru pembimbing yang telah memberikan begitu banyak masukan terutama dalam melaksanakan proses belajar mengajar di kelas.
7.      Bapak dan ibu guru serta staf tata usaha SMA Handayani Sungguminasa yang telah mendukung pelaksanaan P2K di SMA Handayani Sungguminasa.
8.      Siswa/siswi SMA Handayani Sungguminasa yang telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan proses belajar mengajar selama kegiatan P2K berlangsung.
9.      Rekan – rekan mahasiswa P2K SMA Handayani Sungguminasa yang telah bekerjasama dengan baik. Semoga kebersamaan itu memberikan hikmah yang bermanfaat bagi kita semua.
Namun sepenuhnya penulis menyadari bahwa laporan ini tidak luput dari kekurangan ataupun kesalahan, olehnya itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun guna penyempurnaan laporan selanjutnya.
Demikian laporan Observasi dan Orientasi ini kami buat, semoga Allah SWT selalu mencurahkan Rahmat dan karunia-Nya kepada hamba-Nya dan semua amal bakti kita dapat bernilai ibadah disisi-Nya.
Amin Ya Rabbil Alamin.
Billahi Fiisabilil Haq Fastabiqul Khaerat.
                                                                                    Sungguminasa,     Mei 2014

                                                                                              
                                                                                                            Penulis





BAB I
PENDAHULUAN

A.  Profil Proses Pembelajaran di kelas
          Program Pemantapan Profesi Keguruan (P2K) berlokasi di SMA Handayani Sungguminasa, Kab. Gowa. Menempatkan penulis sebagai peneliti untuk meninjau pembelajaran yang terjadi di dalam kelas. Dimana kelas yang dipilih adalah kelas X. Sebab, kelas ini merupakan salah satu kelas yang heterogen dari beberapa kelas. Keadaan siswanya sangat bervariasi, ada yang memang pintar dalam hal Bahasa dan Sastra Indonesia atau menguasai pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, ada juga yang sedang atau biasa – biasa saja, ada juga yang sama sekali tidak suka atau memang tidak senang dalam belajarBahasa dan Sastra Indonesia . Informasi tersebut di peroleh dari hasil observasi yang dilakukan.
           Dalam proses belajar mengajar yang dilakukan, dipilih sebuah model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan situasi dan kondisi para siswa. Model pembelajaran yang berusaha diterapkan adalah model pembelajaran Kooperatif dengan Tipe NHT (Numbered Heads Together).
          Proses pembelajaran berlangsung dengan mengutamakan pemberian tindakan secara langsung kepada peserta didik. Sesuai dengan penelitian yang akan dilaksanakan yakni Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dengan pemberian tindakan langsung diharapkan dapat lebih meningkatkan motivasi belajar siswa, aktifitas siswa, kreatifitas siswa, terlebih dalam meningkatkan hasil belajar siswa yang selama ini dianggap masih kurang. Dengan demikian, maka peneliti menganggap perlu adanya suatu metode atau model pembelajaran yang diberikan dalam bentuk sebuah tindakan. Agar pembelajaran dalam kelas juga tidak berlangsung secara menoton dan terjadi hanya satu arah, yaitu dari guru ke siswa. Lebih dari itu, peneliti berharap dengan penerapan model pembelajaran ini akan terjadi komunikasi timbal balik antara guru ke siswa dan siswa ke guru maupun siswa ke siswa.
          Dalam pembelajaran kooperatif tipe NHT siswa dibentuk dalam beberapa kelompok kemudian setiap anggota kelompok tersebut mendapat nomor. Setelah kelompok terbentuk selanjutnya siswa akan diberikan tugas untuk dikerjakan secara berkelompok dengan catatan hasil diskusi kelompok harus dikuasai oleh setiap anggota kelompok dan setiap anggota kelompok harus mampu mempresentasikan hasil kelompoknya. Di dalam kelompok tersebut siswa diajak untuk lebih kreatif, inovatif dan memiliki rasa kebersamaan yang kuat dalam tim masing – masing. Dalam proses pembelajaran yang dilakukan ada beberapa aspek yang diperhatikan disini, yakni, minat siswa, perhatian siswa, partisipasi siswa, serta presentasi siswa di kelas. Proses pembelajaran di kelas berlangsung dalam bentuk siklus. Ada beberapa kegiatan yang perlu diperhatikan seorang guru dalam proses belajar mengajar yakni, apersepsi, penjelasan materi, penjelasan metode Kooperatif tipe NHT, tekhnik pembagian kelompok, pengelolaan kegiatan diskusi, pemberian pertanyaan atau kuis, kemampuan melakukan evaluasi, memberikan penghargaan individu dan kelompok, menentukan nilai individu dan kelompok dan menyimpulkan materi pembelajaran serta menutup pembelajaran.
          Melalui model pembelajaran inilah, diharapkan hasil belajar siswa semakin meningkat. Oleh karena itu, maka peneliti merasa perlu menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe NHT ini pada siswa kelas X. Karena dengan melihat kondisi pembelajaran sebelumnya, serta melihat keadaan siswa di kelas tersebut sangat heterogen.

B. Profil Hasil Belajar
               Hasil pembelajaran yang dicapai pada sekolah ini pun tidak jauh berbeda dengan hasil belajar yang dicapai sekolah-sekolah lain dalam hal bervariasinya nilai yang dicapai masing-masing siswa setelah pelaksanakan evaluasi, hal ini diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain tingkat kecerdasan siswa yang berbeda-beda, pengaruh lingkungan sekolah dan luar sekolah, dan tak lepas pula dari faktor guru yang bersangkutan dalam penggunaan metode dan media dalam proses pembelajaran.
Maka peneliti mampu mendeskripsikan profil hasil belajar siswa di kelas X  sebagai kelas yang sebenarnya menyimpan potensi besar namun tidak terasah dengan baik. Kemampuan siswa terlihat kurang berimbang dimana terdapat siswa yang begitu mendominasi kelas sementara siswa lainnya cenderung pasif. Keadaan ini membuka mata kami untuk mengambil strategi untuk memaksimalkan potensi mereka. Dalam hal ini sebagai peneliti dan observator serta pengawas dalam proses belajar mengajar, di upayakan cara-cara yang tepat agar kemampuan yang di miliki siswa dapat tersalurkan dengan maksimal.

C. Rumusan masalah berdasarkan profil proses pembelajaran dan hasil belajar
          Berdasarkan profil proses pembelajaran dan hasil belajar, maka rumusan  masalahnya yakni: “Apakah dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X. SMA Handayani Sungguminasa Gowa.”

D. Bentuk tindakan untuk memecahkan masalah sesuai dengan masalah
          Bentuk tindakan yang dilakukan dalam memecahkan masalah sesuai dengan permasalahan yang ada dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe NHT. Dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe NHT ini, maka diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Sma Handayani Sungguminasa Gowa.

E. Argumentasi logis pilihan tindakan
          Berdasarkan masalah tersebut, penulis tertarik melakukan perbaikan pembelajaran dengan melakukan penelitian tindakan kelas. Perbaikan awal yang dilakukan adalah penerapan model pembelajaran yang lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan potensi secara maksimal. Model pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran kooperatif.
          Model pembelajaran kooperatif tumbuh dari suatu tradisi pendidikan yang menekankan berfikir dan latihan bertindak demokratis, pembelajaran aktif, perilaku kooperatif, dan menghormati perbedaan dalam masyarakat multibudaya. Dalam pelaksanaannya model pembelajaran kooperatif dapat merubah peran guru dari peran terpusat pada guru keperan pengelolah aktivitas kelompok kecil. Sehingga dengan demikian peran guru yang selama ini monoton akan berkurang dan peserta didik akan semakin terlatih untuk menyelesaikan berbagai permasalahan, bahkan permasalahan yang dianggap sulit sekalipun.
          Beberapa penelitian yang terdahulu menggunakan model pembelajaran kooperatif menyimpulkan bahwa model pembelajaran tersebut telah memberikan masukan yamg berarti bagi sekolah, guru, dan terutama peserta didik dalam meningkatkan prestasi.

F. Tujuan
          Mengacu pada permasalahan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah “Untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Handayani Sungguminasa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.”






















BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Landasan Teori
1.    Pengertian belajar
          Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling cocok bagi setiap orang. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Sekarang timbul pertanyaan apakah belajar itu sebenarnya?. Tentu saja terhadap pertanyaan tersebut banyak pendapat yang berbeda satu sama lain.
          Ada beberapa pandangan tentang belajar diantaranya :
          Menurut Gagne (syaiful sgala, 2003:13) berpendapat bahwa  “Belajar adalah sebagai suatu proses dimana suatu organismeberubah prilakunya sebagai akibat dari pengalaman.”
          Gagasan yang menyatakan bahwa belajar menyangkut perubahan dalam suatu organisme, berarti belajar juga membutuhkan waktu dan tempat. Belajar disimpulkan terjadi, bila tampak terjadi tanda-tanda bahwa perilaku manusia berubah sebagai akibat terjadinya proses pembelajaran.
          Adapun defenisi belajar menurut Morgan (Ratumanan, 2004;1) adalah “Belajar dapat didefenisikan sebagai setiap perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman”
          Menurut defenisi diatas seseorang mengalami proses belajar kalau ada perubahan dari tidak tahu menjadi tahu dalam menguasai ilmu pengetahuan. Belajar disini merupakan “suatu proses” dimana guru melihat apa yang terjadi selama murid menjalani pengalaman edukatif untuk mencapai suatu tujuan yang harus diperhatikan dari siswa adalah pola perubahan pada pengetahuan selama pengalaman belajar itu berlangsung.
          Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang secara keseluruhan, sebagai akibat dari pengalaman dan latihan, denagn perubahan-perubahan yang dihasilkan bersifat relative tetap.
2.    Hasil Belajar Bahasa Indonesia
Hasil belajar adalah kecakapan yang diperoleh melalui proses belajar. Hasil belajar merupakan ukuran yang menyatakan seberapa jauh tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa dengan pengalaman yang telah diberikan dan disiapkan oleh sekolah. Hal ini sejalan dengan pengertian yang dikemukakan oleh Bahri (Kasmawati; 2006:7) yang menyatakan bahwa:” hasil belajar adalah suatu yang diperoleh dan suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun kelompok. Hasil tersebut tidak akan diperoleh selama seseorang tidak melakukan suatu kegiatan.
Jadi hasil belajar Bahasa Indonesia merupakan sesuatu yang dicapai oleh siswa melalui suatu proses belajar matematika, untuk menentukan hasil belajar Bahasa Indonesia dilakukan evaluasi hasil belajar yang biasanya menggunakan alat evaluasi yang berupa tes.

3.    Pembelajaran Kooperatif
a.    Pengertian pembelajaran kooperatif
          Pembelajaran kooperatif bukanlah model baru dalam Proses Belajar Mengajar, karena sesungguhnya pembelajaran  kooperatif  telah dilaksanakan oleh guru dengan terprogram dalam satuan pelajarannya (SP) yaitu pada langkah-langkah pembelajaran, akan tetapi guru tidak mengetahui bahkan   sering kali  dalam proses pembelajaran tak dapat dilaksanakan sesuai program karena faktor intern dan ekstern yang terjadi saat jalannya proses belajar mengajar, dan guru akan mengubah model pembelajaran tersebut, misalnya menggunakan metode pembelajaran tradisional dimana guru mendominasi kelas atau dengan metode ceramah- Tanya jawab atau pengerjaan soal-soal sebagai latihan.
          Dengan adanya pembaharuan dalam pergerakan refomasi pendidikan Pembelajaran kooperatif dimasukan sebagai suatu keharusan,  pembelajaran kooperatif  telah  merangkum banyak model pembelajaran. Pada dasarnya pembelajaran kooperatif menggalahkan siswa untuk belajar bekerja sama dalam kelompok, atau menjadi suatu tim yang baik dengan saling melengkapi.
          Pembelajaran koopeatif dilaksanakan dalam kelompok - kelompok  kecil supaya pelajar-pelajar dapat berkerjasama dalam kelompok masing-masing untuk mempelajari materi pelajaran  sesuai kecakapan dan kemapuan bekerja sama.Pada dasarnya pembelajaran kooperatif melibatkan pelajar bekerjasama dalam mencapai tujuan pembelajaran yang dirancang guru sebelumnya dan guru  berfungsi sebagai fasilitator dan pengayom maka pembelajaran kooperatif dimaksudkan agar siswa benar-benar menerima ilmu dari pengalaman belajar bersama-sama dengan rekan-rekannya  baik yang sudah dikatakan cakap maupun yang masih dikatakan lemah dalam memahami konsep/materi pelajaran(http://www.geocities.com/gardner02_8/ilmiah1.htm).
          Dari uraian-uraian di atas  penulis dapat nyatakan bahwa pembelajaran kooperatif yaitu gabungan dari berbagai model pembelajaran yang menitik beratkan untuk siswa berkreasi, bekerja sama dan mampu berkomunikasi dalam kelompoknya juga antar kelompok dengan siswa lain sekelasnya sehingga ada pengalaman belajar yang baik.
b.   Ciri - Ciri Pembelajaran Kooperatif:
1.    Belajar dalam Kelompok
              Pembagian Kelompok Belajar diarahkan untuk mencapai keberhasilan dalam  menguasai suatu konsep yang di ajar. Tujuannya agar hasil yang dicapai melalui usaha bersama dari seorang wakil  yang  dipercayakan di dalam kelompok tersebut. Dalam kelompok ini setiap wakilnya mempunyai peranan tertentu dan jelas dalam usaha kelompok mencapai tujuan yang ditetapkan, kelompok yang dibentuk guru bukan kelompok besar tetapi paling banyak terdiri dari 5 orang, juga diperhatikan keberadaan personil tiap kelompok dan diatur secara homogen maupun heterogen agar jalannya pembelajaran efektif dan efisien.
2.    Interaksi sosial ditekankan
              Setiap wakil dari kelompok akan bertemu dalam satu kelompok dan membahas  secara bersama-sama yang selanjutnya hasil yang diperoleh akan dibawakan kembali dalam kelompoknya semula, dengan demikian pembahasan menjadi berkembang, wakil kelompok mempunyai tanggung jawab memajukan pemahaman anggota kelompoknya maka dia dianggap sanggup untuk menerima dan memberi suatu informasi/konsep pelajaran pada anggota kelompoknya.

3.    Kerja Sama antar Siswa dalam Mencapai  Tujuan.
              Keberhasilan kelompok akan tergantung kepada pemahaman individu-individu anggotanya. Setiap anggota mempunyai tanggungjawab untuk dapat memberi suatu masukan yang berarti pada kelompoknya. Ini dikenal sebagai prinsip kerja sama kelompok Untuk mencapai keberhasilan. Dalam prinsip ini, tugas diberikan kepada semua wakil dari kelompok untuk kemudian dipresentasikan. Tanggungjawab tiap wakil kelompok tersebut dimaksudkan  agar  setiap pelajar dapat aktif dalam kelompoknya. Selanjutnya agar setiap pelajar mendapat kesempatan yang sama untuk mengambil bagian dalam  pembahasan kelompoknya, dengan begitu kecakapan seorang anggota dapat diberikan kepada anggota lain.

c.    Kelebihan Pembelajaran Kooperatif
          Slavin (ratumanan, 2004;133) mengemukakan bahwa pembelajaran koopertif memberikan beberapa keuntungan, yakni:
v Siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma norma kelompok.
v Siswa aktif membantu dan mendorong semangat untuk sama-sama berhasil.
v Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok.
v Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat.
          Interaksi antar siswa juga membantu meningkatkan perkembangan kognitif yang non konservatif menjadi konservatif (Teori Piaget). Menurut Kagan (1994) , pembelajaran kooperatif bagi golongan berbakat telah membawa banyak keberkesanan atau faedah seperti berikut :
§  Memperbaiki hubungan social antar siswa
§  Meningkatkan prestasi belajar
§  Meningkatkan  kepimpinan
§  Meningkatkan kemahiran sosial
§  Meningkatkan kemahiran berkomunikasi
§  Meningkatkan pengetahuan akan teknolog
§  Meningkatkan rasa percaya  diri
d.   Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif
          Menurut Ibrahim (2006:10), keenam langkah pembelajaran kooperatif  disajikan dalam bentuk tabel berikut ini.
Table 1. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif.
Fase
Tingkah laku guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase 2
Menyajikan informasi.


Guru menyajikan informasi dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase 3
Mangorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar.

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok belajar agar melakukan transisi secara efesien.
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar.

Guru membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase 5
Evaluasi


Guru mengevalusi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masingkelompokmempresentasikan hasil kerjanya.
Fase 6
Memberikan penghargaan.
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

4.    Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT)
          Sebagai seorang profesional, guru harus mempunyai pengetahuan dan persediaan strategi pembelajaran. Tidak semua strategi yang diketahui harus dan bisa diterapkan dalam kenyataan sehari-hari di ruang kelas. Guru yang ingin maju dan berkembang perlu mempunyai persediaan strategi dan teknik-teknik pembelajaran yang pasti akan selalu bermanfaat dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Salah satu teknik mengajar gotong royong adalah tipe Numbered Heads Together (NHT) atau Teknik Kepala Bernomor.
          Metode ini dikembangkan oleh Spencer Kagan (1993) dengan melibatkan para siswa dalam mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut.
          Teknik belajar mengajar Kepala Bernomor (Numbered Heads Together) menurut Lie (Yulianni,2008:14), bahwa “Teknik belajar mengajar Kepala Bernomor (NHT) adalah suatu teknik yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagi ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat.”
          Teknik belajar mengajar Kepala Bernomor (Numbered Heads Together) dapat mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerjasama mereka. Teknik Kepala Bernomor dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
          Adapun langkah-langkah dalam teknik belajar mengajar Kepala Bernomor (Numbered Heads Together) yaitu:
1.    Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2.    Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
3.    Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini.
4.    Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka.
Adapun sintaks model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) sebagai berikut:

Tabel 2.2 Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Heads Together(NHT)
FASE
TINGKAH LAKU
Fase-1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa


Fase-2
Menyajikan informasi


Fase-3
Mrngorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar










Fase-4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar.

Fase-5
Evaluasi




Fase-6
Memberikan penghargaan





Guru menyampaikan tujuan pembelajaran (indicator hasil belajar). Guru memotivasi siswa. Guru mengaitkan pelajaran sekarang dengan yang terdahulu.
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar dan menjelaskan bagaimana caranya  seperti:
a.       Setiap kelompok beranggotakan 3-5 orang heterogen dan setiap anggots kelompok diberi nomor 1 sampai 5 (penomoran)
b.      Guru mengajukan pertanyaan
c.       Guru meminta siswa mendiskusikan pertanyaan secara kelompok (berpikir bersama)


Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas.
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau meminta siswa menjawab pertanyaan dengan memanggil satu nomor.
Guru memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi untuk menghargai upaya maupun hasil belajar siswa baik secara individu maupun kelompok.











BAB III
PROSEDUR PELAKSANAAN

A.    Jumlah siswa, tempat, dan waktu pelaksanaan P2K
a.            Jumlah siswa
            Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X Sma Handayani Sungguminasa, sebanyak 32 orang siswa yang terdiri dari 18 orang siswa laki-laki dan 15 orang siswa perempuan. Pelaksanaan P2K dilaksanakan sebanyak 2 siklus, setiap siklus berlangsung selama 4 kali pertemuan yang terdiri dari 3 kali pertemuan proses belajar mengajar dan 1 kali pertemuan untuk tes hasil belajar. 
b.            Tempat Penelitian
            Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas X  SMA Handayani Sungguminasa Gowa untuk mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
c.             Waktu Pelaksanaan
            Penelitian dilaksanakan pada akhir tahun ajaran 2013/2014 yaitu Maret sampai bulan Mei 2014. Penentuan waktu penelitian mengacu pada kalender akademik sekolah, karena PTK memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar yang efektif di kelas.


B.     Langkah – langkah pembuatan perangkat pembelajaran inovatif seperti RPP dan alat evaluasi.
          Langkah pertama adalah meminta Silabus pada guru Bahasa Indonesia (Guru Pamong), langkah kedua menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), serta merumuskan alat evaluasi berupa soal – soal dalam bentuk kelompok dan individu. Selanjutnya dapat dilihat pada bagan alur di bawah ini:

                                                     

Studi Pendahuluan dengan meneliti silabus.

Menyusun RPP dan Rencana tindakan Siklus 1

Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan

Refleksi

Rencana Tindakan Siklus 2

Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan

Refleksi

Simpulan
 C.    Implementasi RPP dan Evaluasi di kelas
          Setelah menyusun Rencana Pelakasanaan Pembelajaran (RPP), maka proses belajar mengajar pun dapat dimulai. Implementasi dari RPP meliputi Pembukaan, penjelasan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, pemaparan tujuan pembelajaran, penyampaian materi, penyampaian metode pembelajaran yang dilaksanakan, pembentukan kelompok, mengarahkan siswa dalam kelompoknya, membuat kesimpulan dan penutup. Evaluasi di kelas dilaksanakan dalam bentuk kuis, tugas individu, dan uji kompetensi. Selanjutnya dapat dilihat pada lampiran mengenai RPP dan alat evaluasi.

D.  Variabel – VariabelPenelitian
          Secara umum ada dua variabel dalam penelitian ini yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Sebagai variabel bebasnya adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam pembelajaran matematika kelas VIII1, sedangkan variabel terikatnya adalah hasil belajar Bahasa Indonesia.

E. Prosedur Penelitian
          Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang berlangsung selama dua siklus. Rancangan masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, evaluasi,dan refleksi (Kemmis dan Taggart,1998).
          Adapun kriteria keberhasilan untuk setiap siklus adalah jika seluruh subyek penelitian dapat terpenuhi, subyek penelitian tersebut meliputi: a) Dapat memahami materi yang sedang dipelajari, b) Dapat menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan materi yang dipelajari, c) Senang dan aktif mengikuti pembelajaran, d) Memperoleh skor pada tes akhir tindakan minimal 65.


  

BAB IV
HASIL PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN

          Hasil dan analisis data penelitian dibuat berdasarkan data yang diperoleh dari kegiatan penelitian tentang hasil belajar siswa melalui pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together(NHT) yang telah dilaksanakan di SMP Negeri 1 Pallangga. Pelaksanaan ini dilaksanakan dua siklus yaitu siklus I dan siklus II, adapun yang dianalisis adalah hasil tes awal, tes akhir siklus I dan tes akhir siklus II.
          Hasil dan pembahasan yang diperoleh dari dua siklus pelaksanaan penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut:

A.  Peningkatan Hasil Belajar Siswa
1.    Analisis Deskriptif Hasil Belajar Sebelum Menggunakan Pembelajaran Kooperatif TipeNumbered Heads Together(NHT).
Berdasarkan analisis deskriptif tes awal, hasil belajar siswa dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 1. Statistik skor penguasaan siswa sebelum menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together(NHT)
Satistik
Nilai Statistik
Subjek
Skor Ideal
Skor Maksimum
Skor Minimum
Rentang Skor
Skor Rata-rata
Standar deviasi
37
100
80
18
62
43,43
12,64

          Pada tabel 1 menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar Bahasa Indonesiasebelum menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah 43,43 dari skor ideal 100. banyaknya siswa yang tuntas sebanyak 2 orang (5,41%) dengan standar deviasi 12,64. skor maksimal yang diperoleh siswa pada tes awal adalah 80 dan skor minimum yang diperoleh siswa adalah 18.
          Apabila kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal pada tes awal dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar siswa pada tes awal dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. distribusi frekuensi ketuntasan belajar siswa pada tes awal
Skor
Frekuensi
Persen
Kategori
0-74
75-100
35
2
94,59
5,41
Tidak tuntas
Tuntas 

          Dari tabel 2 menunjukkan bahwa pada tes awal persentase ketuntasan siswa sebesar 5,41% yaitu 2 dari 37 siswa termasuk dalam kategori tuntas, 94,59% yaitu 35 dari 37 siswa termasuk dalam kategori tidak tuntas, artinya dari 37 siswa lebih banyak yang belum tuntas  dan memerlukan perbaikan pada siklus I.

2.    Analisis Deskriptif Hasil Tes Akhir Siklus I
          Pada siklus ini dilaksanakan tes hasil belajar yang berbentuk ulangan harian. Adapun analisis deskriptif skor perolehan siswa setelah diterapkan kooperatif setelah diterapkan kooperatif tipe Numbered Heads Together(NHT) selama siklus I dan dapat dilihat pada tabel 3 berikut:
Tabel 3. Statistik Skor Penguasaan Siswa Pada Tes Siklus I
Satistik
Nilai statistik
Subjek
Skor Ideal
Skor Maksimum
Skor Minimum
Rentang Skor
Skor Rata-rata
Standar deviasi
35
100
85
10
75
46,03
20,91

          Pada tabel 3 menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar Bahasa Indonesiasetelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together(NHT) pada siklus I adalah 46,03 dari skor ideal 100. Banyaknya siswa yang tuntas 4 orang dengan persentase 11,43% dan belum tuntas sebanyak 31 orang dengan persentase 88,57%. Dengan standar deviasi 20,91. Skor maksimum yang diperoleh siswa pada tes siklus I sudah mengalami peningkatan dimana skor rata-rata dari 43,43 meningkat menjadi 46,03.
          Apabila kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal pada tes siklus I dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar siswa pada tes siklus I dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Distribusi frekuensi ketuntasan belajar siswa pada tes siklus I
Skor
Frekuensi
Persen
Kategori
0-74
75-100
31
4
88,57
11,43
Tidak tuntas
Tuntas 

Dari tabel 2 menunjukkan bahwa pada tes siklus I persentase ketuntasan siswa sebesar 11,43% yaitu 4 dari 35 siswa termasuk dalam kategori tuntas, 88,57% yaitu 31 dari 35 siswa termasuk dalam kategori tidak tuntas, artinya dari 35 siswa sebagian kecil yang belum tuntas dan memerlukan perbaikan pada siklus II.

3.    Analisis Deskriptif Hasil Tes Akhir Siklus II
          Pada siklus ini diterapkan metode pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan menetapkan dan membenahi kekurangan yang terjadi pada siklus I dan dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Statistik Skor Penguasaan Siswa Pada Tes Siklus II
Satistik
Nilai statistic
Subjek
Skor Ideal
Skor Maksimum
Skor Minimum
Rentang Skor
Skor Rata-rata
Standar deviasi
34
100
100
18
82
62,47
25,62
          Pada tabel 5 menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar Bahasa Indonesia setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif tipe NHT pada siklus II adalah 62,47 dari skor ideal 100. Banyaknya siswa yang tuntas 10 orang dengan persentase 29,41% dan belum tuntas sebanyak 24 orang dengan persentase 70,59%. Dengan standar deviasi 25,62. Skor maksimum yang diperoleh siswa pada tes siklus II sudah mengalami peningkatan dimana skor rata-rata dari 46,03 pada siklus I meningkat menjadi 62,47 pada siklus II.
          Apabila kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal pada tes siklus II dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar siswa pada tes siklus Il dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Distribusi frekuensi ketuntasan belajar siswa pada tes siklus II
Skor
Frekuensi
Persen
Kategori
0-74
75-100
24
10
70,59
29,41
Tidak tuntas
Tuntas 

          Dari tabel 6 menunjukkan bahwa pada tes siklus II persentase ketuntasan siswa sebesar 29,41% yaitu 10 dari 34 siswa termasuk dalam kategori tuntas, 70.58% yaitu 24 dari 34 siswa termasuk dalam kategori tidak tuntas, artinya dari tes siklus I  ke tes siklus II mengalami peningkatan yaitu dari 4 siswa yang tuntas pada tes siklus I meningkat pada tes siklus II menjadi 10 siswa.
          Hal ini disebabkan karena pada siklus II ini, para siswa sudah mulai beradaptasi dan terbiasa dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe NHT, setelah dilakukan pembenahan mengenai hal-hal yang dianggap kurang pada siklus I.




B.  Hasil Analisis Kualitatif
Tabel 7: HasilObservasi Sikap Siswa Selama Mengikuti Pembelajaran Siklus I
No
Komponen yang diamati
Pertemuan
Σ
X%
1
2
3
4


1
siswa yang hadir pada saat pembelajaran
37
33
30
Tes Akhir Siklus I
100
83,33
2
siswa yang bertanya tentang materi pelajaran yang belum di mengerti
6
4
3
13
10.83
3
siswa yang menyelesaikan soal di papan tulis
7
3
5
15
12,5
4
siswa yang aktif pada saat kerja kelompok
3
4
5
12
10
5
siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat kerja kelompok
3
4
3
10
8,33
6
siswa yang mengumpulkan PR
-
33
30
63
52,5
No
Komponen yang diamati
Pertemuan
Σ
X%
1
2
3
4


1
siswa yang hadir pada saat pembelajaran
38
39
35
Tes Akhir Siklus II
112
93,33
2
siswa yang bertanya tentang materi pelajaran yang belum di mengerti
3
6
7
16
13,33
3
siswa yang menyelesaikan soal di papan tulis
2
2
2
6
5
4
siswa yang aktif pada saat kerja kelompok
4
3
4
10
8,33
5
siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat kerja kelompok
3
3
6
12
10
6
siswa yang mengumpulkan PR
-
38
35
73
60,83

Tabel 8: Hasil observasi sikap siswa selama mengikti pembelajaran siklus II

          Disamping peningkatan hasil matematika, selama penelitian pada siklus I dan siklus II tercatat sejumlah perubahan yang terjadi selama proses belajar mengajar berlansung. Perubahan tersebut merupakan data kualitatif yang diperoleh dari lembar observasi pada setiap pertemuan yang dicatat pada tiap siklus dan catatan teman sejawat selaku observer untuk mengetahui perubahan kesiapan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar selama penelitian ini berlansung.
          Berikut ini adalah data perubahan siswa selama kegiatan proses belajar mengajar:
1.      Kehadiran siswa semakin meningkat dari 83,33% pada siklus I menjadi 93,33% pada siklus II.
2.      Keaktifan siswa dalam kegiatan kelompok terjadi peningkatan dari 10,83% pada siklus I menjadi 13,33% pada siklus II. Hal ini disebabkan karena siswa menyadari akan pentingnya saling kerja sama dalam berkelompok dimana kita dapat menyelesaikan soal-soal yang sulit bersama teman kelompoknya.
3.      Siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat diskusi kelompok ketika pembelajaran kooperatif tipe NHT telah diterapkan sudah terjadi penurunan yaitu dari 12,5% menurun menjadi 5%. Hal ini disebabkan karena terjalin kerjasama kelompok dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.
4.      Siswa yang bertanya tentang materi yang belum dimengerti mengalami penurunan dari 10% pada siklus I menjadi 8,33% pada siklus II. Hal ini disbabkan karena siswa menyadari akan pentingnya dalam memperhatikan materi yang dijelaskan oleh guru.
5.      Siswa yang mengajukan diri untuk mengerjakan soal dipapan tulis mengalami peningkatan dari 8,33% pada siklus I menjadi 10% pada siklus II. Hal ini disebabkan karena mereka termotivasi oleh temannya yang lain, yang selalu mengerjakan soal di papan tulis. Dan guru juga selalu memotivasi untuk bersaing secara sehat untuk mengerjakan soal di papan tulis. 
6.      Siswa yang mengumpulkan PR mengalami peningkatan dari 52,5% pada siklus I menjadi 60,83% pada siklus II. Hal ini disebabkan karena guru mengembalikan PR kepada masing-masing siswa sehingga yang tidak mengumpulkan PR akan merasa malu kepada siswa yang lain yang mendapatkan nilai dari PR yang dikerjakannya. Hal ini juga dapat memotivasi siswa dalam mengerjakan PR.

C.  Refleksi Terhadap Pelaksanaan Tindakan Dalam Proses Belajar Bahasa Indonesia
1.      Pandangan siswa terhadap mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat dikatakan mengalami perubahan kearah yang lebih positif. Hal ini dapat terlihat dari interaksi yang terjadi baik antara siswa dengan siswa maupun guru dengan siswa di kelas.
2.      Pandangan siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif dengan metode NHT, untuk hal ini tersebut umumnya siswa menanggapi dengan positif. Mereka menganggap bahwa metode pembelajaran tersebut memberikan peluang kepada mereka untuk lebih memahami materi, sedangkan ketua kelompok menjadi asing untuk menumbuhkan motivasi belajar pada dirinya untuk bersaing secara sehat. Disamping itu, pada pembelajaran ini siswa dapat menumbuh kembangkan kekompakkan antara anggota kelompok terutama pada saat mereka mendiskusikan atau bertukar pikiran untuk mencari jawaban yang benar sehingga lebih berkesan dan mudah diingat.
3.      Soal kuis  yang diberikan sekaligus berfungsi menjadi jelas diagnostik dapat secara langsung menguji kemampuan siswa. PR yang diberikan juga sangat membantu siswa untuk secara langsung menguji atau mengulangi apa yang telah dipahami pada saat pembelajaran di sekolah
4.      Pemberian pujian atau penghargaan kepada siswa yang mengerjakan tugas yang diberikan merupakan salah satu faktor yang memotivasi siswa untuk lebih meningkatkan cara belajarnya.



D.    Pembahasan
          Dari hasil observasi yang dilakukan selama dua siklus dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe NHT memberikan banyak perubahan pada siswa antara lain:
1.      Siswa lebih termotivasi untuk belajar
2.      Siswa merasa senang dengan metode yang diterapkan
3.      Siswa merasa lebih akrab dengan teman-temannya
4.      Siswa mempunyai kepercayaan dalam mengerjakan soal-soal di papan tulis.
          Diawal pertemuan terdapat kendala yang terjadi dalam proses pembelajaran yaitu masih adanya siswa yang tidak mmpunyai keberanian dalam menjawab pertanyaan, bertanya, mengerjakan soal di papan tulis, serta mengerjakan soal kuis dan pekerjaan rumah (PR). Tapi hal ini tidak berlangsung lama karena diakhir siklus I sudah terjadi perubahan pada siswa tersebut.
          Pada siklus II kendala yang ditemukan disiklus I sudah terkendali terlihat dari semakin meningkatnya minat belajar siswa dan mampu menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh peneliti, pada siklus I persentase kehadiran siswa 83,33% meningkat menjadi 93,33% pada siklus II. Serta skor rata-rata yang dicapai siswa pada siklus I 46,03 meningkat menjadi 62,47 pada siklus II.
          Berdasarkan pada indikator keberhasilan, siswa dikatakan tuntas apabila memperoleh skor minimal 75% dari skor ideal dan tuntas belajar secara klasikal apabila 80% dari jumlah siswa telah tuntas belajar. Dari data yang diperoleh setelah perlakuan dapat ditunjukkan bahwa pada siklus I terdapat 4 orang siswa yang tuntas belajar dengan persentase 11,43% sedangkan pada siklus II terdapat 10 orang siswa yang tuntas belajar dengan persentase 29,11%. Dengan melihat dari persentase ketuntasan belajar tersebut mengalami peningkatan, maka jelas terlihat bahwa telah mencapai ketuntasan berdasarkan pada indikator keberhasilan tetapi tidak tuntas belajar secara klasikal. 




BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A.    Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Peranan pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT dapat meningkatkan aktivitas proses belajar mengajar.
2.      Dari hasil observasi memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan dari siklus I kesiklus II.
3.      Kemampuan dalam diskusi kelompok juga mengalami kemajuan yang sangat berarti. Hal ini disebabkan karena siswa sudah mulai terbiasa belajar kelompok.
4.      Penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran menunjukkan peningkatan. Hal ini dapat ditunjukkan hasil rata-rata ulangan harian (rata-rata ulangan harian I tanpa pembelajaran kooperatif tipe NHT 43,43 menjadi 46,03 (ulangan harian II memakai pembelajaran kooperatif tipe NHT) dan kemudian meningkat menjadi 62,47 pada ulangan harian III pada siklus II.
5.      Pembelajaran kooperatif tipe NHT relevan dengan pembelajaran kontekstual.
6.      Melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT, siswa membangun sendiri pengetahuannya, menemukan langkah-langkah dalam  mencari sendiri penyelesaikan dari suatu materi yang harus dikuasai oleh siswa, baik secara individu atau kelompok.
7.      Dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT, pelajaran Bahasa Indonesia yang biasanya dianggap sulit bagi sebagian siswa menjadi menyenangkan.

B.     Saran
          Telah terbukti dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, maka kami sarankan sebagai berikut:
1.      Dalam kegiatan belajar mengajar guru diharapkan menjadikan pembelajaran kooperatif tipe NHT sebagai suatu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia.
2.      Karena kegiatan ini sangat bermanfaat bagi guru dan siswa, maka kegiatan ini dapat dilakukan secara berkesinambungan dalam pelajaran Bahasa Indonesia ataupun pelajaran lain.







DAFTAR PUSTAKA

Haling, Abdul. 2007. Belajar dan Pembelajaran. Makassar: Badan Penerbit UNM.
Ibrahim, Muslim. 2000. Pembelajaran Kooperatif. UNESA. Universitas press Kampus UNESA. Surabaya.
Manadira. 2007. Peningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswamelalui model kooperatif tipe jigsaw kelas VII IPA.2 SMA Negeri 2 Bima.Skripsi UNISMUH Makassar.
Ratumanan. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Ambon: Unesa University Press.
Suherman, Erman. 2003. Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia  Kontemporer. Jurusan Bahasa Indonesia FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.
Winkel, W.S. 2004. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.





Komentar